Sahabat-sahabat,
Berikut ini ada tanya jawab soal menulis yang mungkin berguna buat rekan-rekan. Semoga bermanfaat.
Salam kreatif
Epri Tsaqib
--------------------------------------------------------------------------------
=============
PERTANYAAN
=============
Assalamualaikum,
Mas-mas yang baik saya mau nanya. Dulu saya suka nulis, tapi karena sekarang lagi sibuk kerja jadi “malas” menulis. Yang saya tanyakan adalah, adakah porsi waktu yang tepat menulis perhari itu berapa lama? Yang kedua, sejauh mana diksi berperan dalam penulisan fiksi? Bagaimana cara memperbaiki diksi dala tulisan fiksi? Terima kasih.
Pengirim: Bayu Adhitya N (22 tahun)
============
JAWABAN
============
Waalaikumsalam
Bayu yang baik,
Masalah porsi waktu, saya kira itu sangat relatif ya. Sebab tiap penulis pasti menghadapi kondisi yang berbeda-beda. Jika Anda ingin jadi penulis sukses, saya kira kesibukan bukanlah alasan yang tepat untuk berhenti menulis.
Hampir semua penulis ngetop adalah orang-orang yang sibuk lho. Tapi mereka selalu menyempatkan diri menulis di sela-sela kesibukan mereka. Inti dari masalah ini adalah motivasi. Jika motivasi sudah kuat, maka kita akan berjuang mati-matian, mencoba berbagai macam cara agar kita tetap punya waktu untuk menulis, walau kesibukan sangat padat.
Diksi atau pemilihan kata tentu saja sangat penting dalam karya fiksi (Cerita anak-anak merupakan pengecualian, ya. Sebab cerita anak biasanya lebih mementingkan isi cerita, sedangkan gaya bahasanya yang standar saja).
Dalam karya fiksi atau sastra, yang penting bukan hanya isi ceritanya, namun hal-hal lain juga ikut berperan agar karya tersebut menjadi bacaan yang enak dibaca. Kreativitas dalam memilih diksi merupakan salah satu kunci agar tulisan fiksi kita menjadi menarik dan “renyah” untuk dibaca.
Sebagai gambaran, coba bandingkan kedua penggalan paragraf berikut.
------------------------------------------------------------------------
Paragraf 1:
Ayah tak pernah lagi memerhatikanku. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya.Tak ada lagi sisa waktunya untuku. Padahal aku adalah anaknya satu-satunya.
------------------------------------------------------------------------
Paragraf 2:
Bagi ayah, mungkin aku bukan seseorang yang berharga. Aku tersisih, dikalahkan oleh rutinitas pekerjaan kantor ayah yang tak pernah berakhir. Dia sudah tak punya waktu untuk sekadar tersenyum manis padaku, atau bertanya kenapa hari ini wajahku sangat murung.
------------------------------------------------------------------------
Jangan bandingkan jumlah kalimatnya. Tapi coba simak, contoh kalimat mana yang lebih enak dbaca?
Kedua paragraf di atas sebenarnya punya makna yang sama. Tapi pemilihan diksi secara kreatif pada contoh 2 menjadikannya sebagai bacaan yang lebih enak dibaca, tidak membosankan.
Bagaimana cara memperbaiki diksi pada tulisan kita? Saya kira, intinya hanyalah pada latihan yang terus-menerus, jangan pernah menyerah. Sering-seringlah membaca buku-buku sastra yang berkualitas. Sebab buku-buku yang kita baca akan banyak berperan dalam kepiawaian kita dalam merangkai kata.
Semoga sukses, ya….
Jonru
www.penulislepas.com