
Besok lusa saya dapat tugas ke Bengkulu, kalau tak ada halangan saya mau ke lokasi yang pernah terkena gempa yakni Kec Lais dan Muko-muko beberapa waktu lalu.
Ketika saya mau ambil tiket ke agen travel perjalanan, kebetulan Customer Servicenya adalah orang Bengkulu.
Dia agak kaget kalau saya mau ke Bengkulu,
"Bukannya di sana tanggal 23 sudah ramai diberitakan akan ada Tsunami pak?" "Ah masa?"agak kaget juga saya.
"Udah ramai diberitakan kok pak, bahkan sejak tanggal 15 kemarin sekolah-sekolah sudah diliburkan, saya sih juga tidak tahu kebenarannya pasti tidaknya tsunami itu, tapi ini sudah ramai dibicarakan lho pak di berita-berita media massa" "O gitu ya...ya sudahlah gak papa" kata saya sok cool.
Meskipun agak kaget juga sebenarnya, tapi setelah itu saya pribadi sudah yakin bahwa HIDUP dan MATI itu urusan Alloh saja. Kalau saya mesti wafat di sana berarti itu sudah takdir Alloh, tidak akan berubah walau sesaat. Meskipun saya ada di atas tempat tidur yang nyaman, di rumah sendiri dan tak ada tsunami sekalipun. Demikian pula sebaliknya. Alloh lah yang berkuasa atas segala sesuatu.
Lagipula kalau saya memang wafat di sana, bukankah kematian semacam itulah yang sebenarnya saya idam-idamkan selama ini. Yakni sedang bertugas di jalan Alloh dengan membantu sesama yang sedang kesulitan, khususnya di lokasi bencana. Sehingga dengannnya mudah-mudahan saya termasuk orang yang syahid di jalan Alloh.
Karena itu lewat blog saya ini, saya mau minta maaf kepada siapapun yang sengaja atau tidak, pernah saya dzolimi, baik dalam kata-kata maupun perbuatan dan sikap saya. Dengan kerendahan hati mohon diikhlaskan. Hidup cuma sementara, sebentar saja setelah itu segalanya berlalu. Semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang pandai bersyukur atas semua nikmatnya selama ini dan merawat sisa hidup yang diberikan kepada kita dengan banyak berbagi dan membuat orang lain menjadi lebih berarti dengan kehadiran kita.
Tak lupa saya juga minta do'anya dari sahabat sekalian, agar Alloh menjaga niat saya untuk tetap lurus semata hanya karenaNYA dalam tugas apapun.
Kawan-kawan di kantor ketika saya ceritakan kejadian ini malah mengingatkan
"Jangan lupa nulis surat wasiat pak Epri". Dalam hati saya
"Benar juga ya" Bukankah para ulama kita juga selalu menuliskan surat wasiat kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya ketika akan tidur setiap malam?
Salam hangat,
Al-Faqir
Epri Tsaqib