Epri's posts with tag: seputar cinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag seputar cinta
Photo Album2 Spiderman Cilik di Rumah Saya (4 photos)May 28, '08 12:10 AM
for everyone



Beberapa hari yang lalu, anak-anak saya yang besar di rumah bahagia banget. Mereka dibelikan baju spiderman yang memang lagi musim. Secara teman-teman mereka juga pakai, jadi selama berhari-hari mereka merengek minta dibelikan.

Ya, sudahlah celengan mereka sendiri dikorek sama ibunya buat beli baju spiderman yang sedang mereka gandrungi. Tak ayal bagaimana senangnya mereka begitu dibawakan ibunya sepulang ngaji dengan si bungsu. Sebentar-sebentar bergaya dan pamer sama teman-teman, melompat-lompat dan tak lupa topengnya dibawa kemana-kemana.

Namanya juga anak-anak kalau lagi senang dengan sesuatu. Saat tidurpun mereka tak mau seragam spidermannya dicopot. Dan bukan hanya itu, besoknya dan besoknya lagi mereka selalu mau pakai seragam spiderman itu, begitu kering dijemur sama khodimat [pembantu] kami di rumah langsung saja mereka mengganti baju main mereka dengan baju yang jadi kesayangannya itu.

Menurut cerita tetangga sih setidaknya seminggu sampai 10 harilah mereka akan begitu. Yang ada yang pusing adalah khodimat saya ..Hehehe...dasar anak-anak :) Tapi dulu kita-kita waktu kecil begitu juga tidak ya? Jangan-jangan lebih parah? ahh.. Masa anak-anak mungkin jauh lebih indah daripada remaja barangkali ya? super duper polos :D

Photo AlbumJagoan-jagoanku ... (5 photos)Apr 17, '08 5:22 AM
for everyone

"Menjadi Ayah adalah Pengalaman Yang Luar Biasa"

Demikian saya sering bilang ke sahabat dan kawan-kawan bila mereka punya momongan baru.
Saya ingin sekali mengulas lebih jauh tentang hal ini. Berbagi pengalaman saya dengan anak-anak untuk anda. InsyaAlloh saya akan usahakan tuliskan soal ini.

Sementara itu, lihat saja dulu wajah-wajah tampan jagoan-jagoan saya di bawah ini.

Ssttt...saking gantengnya, rekan istri saya ada yang sudah daftar minta dijadiin suaminya kelak. Dan wanita itu bilang ia bersedia menunggu. Subhanalloh...kok segitunya amat ya...hihihi. ..Amat aja gak segitu banget kekekekek...

Salam


Epri Tsaqib
http://geraibuku.multiply.com

Blog EntryMandi Mar 26, '08 10:16 AM
for everyone


Belakangan ini anak saya yang gantengnya mirip banget sama bapaknya [si Yusuf-red], kalau pagi agak susah disuruh mandi. Kalau sudah begini biasanya saya dan uminya membujuk lewat mainan yang dicemplungkan ke bak mandi agar dia mau main dan sekalian dimandikan.

Setelah mandi, Yusuf biasanya teriak, "Udah mandi, udah mandiiii ..." seakan memberitahu seluruh dunia kalau ia sudah mandi dan tak bau ompol lagi. :D

Pernah satu kali di lain waktu, uminya seperti biasa menyuruh Yusuf mandi, lalu si kecil ini mengajukan syarat bahwa ikan sapu-sapu kesayangannya diajak ke kamar mandi. Okelah kami turuti.

Tiba-tiba ia bertanya,"Mi, ikannya udah mandi belum ya?"

Saya dan Umminya, senyum-senyum sendiri...Gubrak.com deh ni anak :D



TANGIS KEHIDUPAN

Langit terbuka
malaikat kecil menari
memijak nafas pelangi

Sayap-sayapnya terbuka
menuruni awan menuju bumi
menghimpun adzan ayah
dengan gerimis kristal
mata bunda

Lalu kau rangkum
sedan iqomah
di telinga kirimu
dengan teriakan
yang memahat kerinduan
matahari

: Selamat datang
ke dunia yang hina anakku


Epri Tsaqib, 2 Desember 2007
Di hari kelahiran putra ke 3 saya
----------------------------------------------------------------

INDAHNYA MOMEN KELAHIRAN...


Keajaiban selalu saja Alloh munculkan di antara carut marut dunia yang memenuhi halaman media massa setiap hari. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika tangis laki-laki mungil yang tampan menyeruak di sudut tempat persalinan sederhana tak jauh dari rumah kontrakan saya.

Saya merasakan aura yang sama ketika memandang buah hati kami yang ketiga (yang semuanya kebetulan laki-laki) pada saat-saat pertama setelah keluar dari rahim bundanya yang lemah. Suara tangis itu dari mulut mungil itu begitu merdu terdengar, jauh lebih indah dari alunan musik instrumentalia. Tubuhnya yang putih masih dibaluri bercak darah dan air ketuban.

Segera saya kumandangkan adzan dengan lirih di telinga kanannya. Setiap bait Adzan yang saya ucapkan lamat-lamat itu membuat tubuh saya sendiri terasa begitu ringan, serasa tak menjejak bumi. Asma Alloh lah yang harus pertama di dengarnya ketika menjalani fase awalnya di dunia yang penuh jebakan ini.

Saat saya Qomat di telinga kirinya, saya baru sadar bahwa di sepanjang pembacaan Adzan dan Iqomah itu, tangisnya yang tadi begitu keras berhenti. Ia seperti khusyuk mendengar Nama Alloh yang indah diperdengarkan. Seperti menyimak isi seruan untuk orang-orang yang mengerti hakikat kebahagiaan itu dengan sebaik-baiknya. Subhanalloh, seluruh dada saya basah dengan kehangatan kalimat-kalimat Alloh sambil merasakan lembut kulit wajah bayi bersih itu.

Memiliki buah hati memang karunia yang besar, amanah yang berat sekaligus membahagiakan. Lewat tulisan ini saya ingin meminta do’a dari sahabat dan kawan-kawan sekalian agar saya dan istri bisa merawat dan membina anak-anak kami dengan penuh kasih sayang sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sholih, yang akan menjadi pemimpin orang-orang terbaik, yang karya-karyanya menjadi kebanggaan bagi orang-orang di sekitarnya. Amin.

Saya juga mohon maaf bila dalam interaksi selama ini ada yang menyinggung atau melukai hati sahabat dan teman-teman sekalian, karena hanya dengan hati yang bersihlah hidayah dan ampunan Alloh akan turun kepada kita semua.

Terimakasih juga untuk saudara-saudara dan sahabat-sahabat yang dalam dua hari cuti saya dari aktivitas kantor ini datang berkunjung ke rumah kecil kami atau ke rumah persalinan. Saya menikmati sepenuhnya kebersamaan teman-teman dengan keluarga saya ini, bahkan lebih nikmat daripada berlibur penuh yang sengaja diambil bila avonturir sekalipun. :)

Salam hangat

Epri Tsaqib dan Keluarga

Blog EntryKado dari AyahNov 15, '07 3:52 AM
for everyone

 

Hari ini (18 Agustus 2007) adalah hari yang membuat hati kami (saya setidaknya) basah oleh gerimis airmata. Salah satu cita-cita kami sejak lama adalah bisa mengasuh anak yatim, membesarkannya, mengusapnya dan menyayanginya sebagaimana anak kami sendiri ternyata bisa terwujud di tempat yang tak pernah kami kira.

Setahun yang lalu setelah bumi Jogjakarta diuji gempa. Lembaga tempat kami bekerja ini begitu sibuknya berusaha membantu sebisanya. Setelah lewat masa tanggap darurat, tibalah saat itu. Saat di mana akhirnya lembaga kami sepakat membuat sebuah pondok yatim bagi anak-anak korban gempa.

Dengan berbekal komitmen dan niat yang tulus kami memulainya. Kerikil dan onak mewarnai kami "membangun" pondok yatim ini. Mulai dari mencari rumah kontrakan yang cocok dan nyaman bagi anak-anak yatim, mencari anak-anak yatim korban gempa serta menseleksi dari ratusan data yang masuk, Mencari relawan yang siap membantu merintis pondok yatim ini, hingga rencana launchingnya yang akhirnya dihadiri oleh bapak wakil Bupati Bantul, walaupun kami berharap di hadiri Bupati Bantul,

Nekat?
Mungkin bisa dibilang begitu. Kami tak pernah membuat program ini sebelumnya, terbayang bagaimana sulitnya mengurus banyak anak, rumahpun tak ada. Mencari kontrakan rumah juga tak mudah di tengah suasana gempa di Bantul dengan kriteria yang setidaknya punya banyak kamar mandi dan MCK. Sementara dana juga terbatas. Belum lagi memikirkan bagaimana biaya sehari-hari anak- anak ini nanti? dan yang lebih penting lagi bagaimana mengasuh mereka agar menjadi anak-anak yang tetap optimis dan berjiwa besar.

Alhamdulillah, Yang Maha Pemurah memudahkan semuanya. Lelah kami, semua kerja keras, dan kesulitan-kesulitan di awal pendirian pondok yatim itu akhirnya diwujudkan oleh Alloh dengan diresmikannya pondok yatim kami yang diberi nama Pondok Yatim BaitusSalam Portalinfaq Jogjakarta.

Ya Alloh....kami punya pondok yatim. Itu setidaknya yang ada dalam benak saya. Dan sekali lagi hati saya basah oleh gerimis airmata. Betapa bahagianya punya pengalaman mengasuh mereka dengan berbagai kesulitan melewati prosesnya.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada :

1. Tim Perintis yang telah membantu berdirinya Pondok Yatim ini, semoga Allah jadikan setiap 'amal ikhlas yang diberikan menjadi pemberat kebaikan di akhirat kelak. Juga kepada semua orang yang masih membantu Pondok Yatim hari ini tentunya.

2. Kepada para donatur yang senantiasa memberikan dukungan serta do'anya, sehingga, pondok dapat berjalan sampai hari ini.

Selamat ulang tahun Pondok Yatim Baitussalam. Semoga Alloh senantiasa meluruskan niat kami, mengistiqomahkannya, hingga anak-anak itu bisa kami persembahkan dengan dada penuh kebanggaan kepada masyarakat dan bangsa ini sebagai anak-anak yang sholehah, mandiri dan berprestasi.

Karena dengan prestasi itulah salah satu cara kalian anak-anakku tak akan malu menjadi anak yatim, bahkan menjadi bangga karenanya.

Dari Ayah yang berusaha selalu menyayangi dan mecintai kalian

Sepenuh Cinta...

 


Epri Abdurrahman Rafi'


http://portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=661

http://pondokyatim.multiply.com/reviews/item/49

"Selamat Ulang Tahun Pondok Yatim Tercinta"


Blog EntryBidadari Oct 24, '07 5:08 AM
for everyone

Ada kisah yang semoga bermanfaat untuk sahabat sekalian.

Selamat membaca ya.

Epri Tsaqib

--------------------------

 

Bidadari Surga, Ainul Mardiyah

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi'i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka"


Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?" "Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:"Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga."

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah kepada Ainul Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . ."

"Assalamu'alaikum" kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku dan berkata: "Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . ..."

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: "Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama".

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).

sumber : milis - myqur'an

pic : totengravity.com


Blog Entry'Itikaf Adalah Percepatan!Oct 2, '07 1:31 AM
for everyone

Malam ini insyaAlloh sudah masuk malam ke 21 di bulan Ramadhan. MasyaAlloh tak terasa cepat sekali waktu berlalu. Ini artinya nanti malam kita sudah mulai 'itikaf (beribadah di dalam masjid selama 10 hari sebagaimana dicontohkan Rosululloh S.A.W)

'Itikaf adalah Percepatan, ya sebuah cara bagi kita untuk mempercepat menuju ridho Alloh. Dengan melakukan perenungan atas perjalanan kita selama ini. Memperbanyak dzikir, wabil khusus tilawah atau membaca Al-Qur'an, beristighfar (banyak memohon ampun kepada Alloh atas begitu banyaknya dosa dan maksiat kita selama ini), berzakat, belajar dan ibadah lainnya.

Wah kalau ingat tilawah, malu banget rasanya. Pada masa para sahabat Rosululloh yang paling malas diantara mereka adalah membaca sedikitnya 1 juz setiap hari. Sementara kita? (hiks....jauh banget ya?). Padahal setiap kita kalau ditanya apakah mau mendapatkan Lailatul Qodar (malam yang lebih baik dari 1000 bulan) semuanya pasti tunjuk tangan duluan...iyakan? :D

Tapi begitulah kita manusia, selalu mau dapat yang paling baik, tapi malas bekerja dan berjuang dan tentu saja berkorban. Biasanya ada saja alasan kita dengan kesibukan dunia dan segala tarikannya sehingga kita pun lebih memilih tertidur dan nyenyak di rumah daripada ber'itikaf di masjid.

So, kalau ada cara yang cepat untuk memperbaiki diri, meraih kemuliaan di sisi Alloh, kenapa kita tidak memulainya? Meski tak bisa full setidaknya saya menghimbau (kayak pejabat aja ya :D) sahabat sekalian bisa memulai beberapa hari dulu agar bisa merasakan aura malam-malam yang indah. Dan tentu saja kita bisa mulai dengan meluruskan niat kita, melakukan 'itikaf hanya karena Alloh saja.

Wallohu'alam bissawab

 

Al-Faqir ~ Epri Tsaqib

www.portalinfaq.org


Blog EntrySepenggal Do'a di Jum'at Tengah RamadhanSep 21, '07 2:15 AM
for everyone

Ya Alloh,

Yang Maha Halus,

Yang Maha Melihat,

Yang Tak Pernah Tertidur

 

Dekatkan aku sedekat-dekatnya dengan Al-Qur’an

Jadikan aku sahabatnya

dan dia belahan jiwaku

 

Wahai yang Maha Sempurna

Mudahkan aku selalu bersimpuh

Menangis hanya padaMU

 

Agar karat hati meluntur

Agar ramadhan tak berlalu tanpa kalamMU*

 

 

*Bandingkan Waktu Kita Membaca Al-Qur'an dengan Nonton Televisi! (Sebuah Nasehat di masjid dekat rumah)


Blog EntryYang Istimewa Hari ini Aug 30, '07 10:57 PM
for everyone

 

Yang punya lebih banyaklah yang hanya bisa berbagi! Itu ungkapan seorang kawan baik saya (dalam hati saya bertanya betulkah?)

Jawabannya bisa iya bisa tidak. Kenyataannya banyak sekali orang apalagi yang hidup di kota besar melihat bahwa semakin kaya seseorang justru semakin tidak peduli dengan lingkungannya. Hidupnya semakin sibuk, pagar rumahnya dibangun semakin tinggi. Jangankan untuk bersosialisasi, dengan tetangga sendiri di sebelahnya saja mereka tidak saling kenal. HIks...ironis. Tapi begitulah kenyataannya.

Coba lihat bila ada kecelakaan di jalan raya! yang biasanya menolong biasanya justru orang-orang kecil seperti tukang becak, tukang ojek, atau pejalan kaki di sekitarnya. Sementara orang-orang kaya yang bermobil mewah biasanya paling-paling melambatkan mobilnya untuk sekedar melihat-lihat, berkomentar dan segera berlalu (itupun kalau tidak disusul dengan sikap menyalahkan, "Ah memang begitu nasibnya sepeda motor, tak tahu aturan sih!")

Tapi di sisi lain, setelah saya renungkan perkataan kawan baik saya itu ada benarnya, kenapa demikian? Orang-orang yang mau berbagi itu adalah orang yang menyadari bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya adalah selalu lebih banyak daripada yang ia sadari. Dengan kesadaran itulah orang seperti ini selalu merasa siap berbagi dan berbuat untuk orang yang membutuhkannya. Kita juga sering melihat bukan ada di sekitar kita orang-orang yang hidup sederhana dan tidak kaya-kaya amat bisa demikian ringan tangan selalu mau berbagi dengan orang lain. Hidup mereka ringan dan berguna sekali. Padalah seperti saya bilang mereka ini mungkin bukanlah tipe orang-orang kaya yang semestinya jauh lebih baik dibanding mereka.

Terus terang saya kagum sekali dengan orang-orang seperti ini. Dan sampai hari ini saya ingin terus belajar dari mereka soal ini. Karena kita mungkin sering heran darimana keyakinan tak pernah menolak orang yang meminta pertolongan itu datangnya? Dan anehnya selalu saja ada jalan keluar dan rezeki yang kemudian mengalir kepada orang-orang ini dan tentunya kepada orang dia niatkan untuk dia tolong. Dan itu selalu terjadi berulang-ulang. Ajaib bukan?

Begitulah karunia Alloh dilapangkan kepada orang-orang yang berhati lembut dan suka menolong, diberikan kepadanya hati yang lapang dan rasa syukur yang mendalam kepada penciptaNYA, kepada yang Maha Pemberi Segala Sesuatu. Orang-orang seperti ini faham betul bahwa hidup cuma sementara, dan nantipun saat "pulang" tak akan bawa apa-apa kecuali amal baiknya yang ikhlas karenaNYA. Itulah opini saya setelah merenungkan perkataan kawan baik saya itu. So... kata kuncinya adalah pada kesadarannya bukan pada sisi materialnya.

Dan di hari yang baik ini ada yang menawarkan kepada saya tulisan di bawah ini, ajakan yang indah, yang selaras dengan rasa iri saya pada orang-orang yang lapang itu. Saya harap anda juga akan menjadi sahabat baik saya dengan ajakan sahabat saya yang baik ini.

Salam Hangat Sahabatku....

Epri Tsaqib


--------------------------------------------------------------------------------------

“Sahabat Berbagi”
Mungkin Anda Salah Satunya?
 


 
Apa Itu?

Berawal dari keinginan sederhana sekedar untuk mencoba belajar ’berbuat’ kepada orang-orang di sekitar kita yang kurang beruntung atas beban hidup yang dirasakan semakin berat.


 
Berharap dari tindakan-tindakan sederhana yang kongkrit itu, kemudian kita bisa belajar banyak, tentang betapa beruntungnya kita masih menghirup nafas pada hari ini. Dari situ mungkin akan terbit kebahagiaan-kebahagiaan kecil di hati kita yang kemudian akan menjadi inspirasi setidaknya bagi diri kita sendiri, syukur-syukur juga bagi orang lain.
 
Kenapa ”Sahabat”?

Siapapun mendengar kata yang satu ini, pasti tergambar di kepala kita ketulusan. Seseorang yang bisa kita andalkan bahkan pada masa yang paling sulit sekalipun. Saat orang lain begitu tak peduli, saat tekanan semakin menghimpit, dia akan ada di sana menepuk bahu kita dengan senyumnya yang hangat.


 
Dengan apa kita bisa berbagi?

Apa saja, tidak selamanya kita berbagi dengan materi, meski itu juga penting. Bisa saja dengan tenaga kita, waktu luang, bagi-bagi sedikit ilmu, saharing pengalaman, menjadi penyambung pesan, jadi kordinator kecil-kecilan di kantor, di komplek rumah, di tempat nongkrong, menyemangati satu sama lain, semuanya berguna di sini, semuanya berarti.


 
Bagaimana kita memulai?

Untuk kongkritnya. Kisah nyata di bawah ini bisa kita jadikan contoh bagaimana ’Sahabat Berbagi’ bisa memulai.

 
Kalau Tak Mengamen dan Mengemis, Lalu Kami Mesti Bagaimana?

 
Anak kecil berusia 8 tahun itu  mengganti pakaian sekolahnya dengan kaos lusuh dan mengajak adik perempuannya menuju perempatan jalan di belakang gedung MPR RI. Saat lampu merah menyala dan mobil-mobil berhenti ia mengeluarkan ’kerecekan’ atau alat musik yang terbuat dari tutup botol yang di paku di atas kayu kecil sebagai musik pengiring dari suara kecilnya pada salah satu jendela mobil mewah berkaca hitam itu.
 
Tak lama kaca mobil itu terbuka, lalu uang recehan Rp 500,- pun berpindah tangan dan segera ia kembali bernyanyi dengan iringan ’kerecekan’ itu ke mobil lainnya di belakang mobil sebelumnya. Kali ini yang di dalam mobil segera menggoyangkan tangan kanannya tanda ia tidak berkenan. Anak itu pun segera ke mobil di belakangnya lagi.


 
Sayang lampu hijau segera menyala, ia dan adiknya bergegas ke pinggir trotoar, hampir saja sebuah sepeda motor yang sedang ngebut mengenai tubuhnya. Untung motor tadi sigap mengerem, tapi tak urung umpatan dan gelengan kepala pengendara sepeda motor tadi terlontar dan masuk ke telinga 2 anak tadi.


 
Siang yang terik itu terasa semakin panas di hati Ucup dan adiknya yang hari ini mengamen. Lain hari kalau keponakannya yang masih kecil berumur 3 tahun (Bebet namanya) bisa di ajak, biasanya ia akan mengemis di perempatan jalan itu.


 
Ayah Ucup sehari-hari menjadi pemulung di pinggir rel kereta api tempat gubuk mereka yang lama tak jauh dari stasiun Palmerah. Dari mengumpulkan gelas-gelas plastik, kardus dan barang-barang bekas lainnya itulah ia menghidupi keluarganya dengan 7 orang anak. Tapi sejak ia sudah tidak memiliki gerobak lagi karena diangkut petugas Tramtib dan sudah beberapa waktu dia harus beristirahat di kampung karena belum lama ia dapat musibah kecelakaan karena terserempet kereta api.


 
Kini anak-anaknyalah yang bekerja, selain Ucup, kakaknya Hendra dan adik-adiknya (semuanya 7 orang) bergantian mengamen dan mengemis di jalan raya untuk menyambung hidup. Ini harus ditempuh karena mereka memang belum punya pilihan lain yang bisa diambil untuk menutupi kebutuhan keluarga mereka di tengah harga-harga yang naik seperti minyak tanah, minyak goreng, beras dan lain-lain.


 
Beberapa waktu lalu guru sekolah Ucup menyarankan kepada salah seorang ’Sahabat Berbagi’ agar Ucup dan Ayahnya tidak lagi memulung atau mengemis. Ayah Ucup (pak Saniman namanya) menjawab singkat,”Lalu kami musti kerja apa pak?”. Sahabat tadi berfikir keras kira-kira apa ya yang bisa ia lakukan agar keluarga itu tak lagi mengemis atau mengamen. Mungkin kalau dagang Jus Buah pakai gerobak bisa dicoba ya? Barangkali saja ke depan Ucup tak usah minder lagi kalau sudah besar di hadapan teman-temannya karena ayahnya kini berdagang jus buah keliling dan tidak lagi memulung dan ia sendiri tak usah lagi jadi pengemis di perempatan jalan itu.


 
Nah ’Sahabat’ sekalian, mungkin ada sahabat-sahabat yang tergerak hatinya setelah membaca kisah nyata ini? Kalau dana untuk beli gerobak, blender dan modal untuk buat Jus buah  itu sudah terkumpul, kita bisa sama-sama ke rumah keluarga pak Saniman untuk melihat ia dan keluarganya memulai lembaran hidup barunya sebagai pedagang Jus Buah.


 
Bantuan bisa di salurkan ke rekening Portalinfaq di :


 
- Bank Syariah Mandiri Cab. Warung Buncit No.Rek.0030035790
- Bank Mandiri Cab. Kuningan No.Rek.124-0001079798
- BCA Cab.
Arteri Pondok Indah No.Rek.291-300-5244


 
Dengan mencantumkan keterangan ‘Sahabat Berbagi’ untuk Keluarga Pak Saniman.


 
Pertanyaan, masukan dan saran-saran bisa dilayangkan ke :


 
1. Mbak Nunung          : nungky_nn@yahoo.com
2. Kosi                         : ukhti.kosi@gmail.com
3. Abdurrahman            : abd_rahman1@yahoo.com  
4. Mbak Eva                 : elia_havifah@yahoo.com

5.  Dessy                      : dessy_ps@yahoo.com
6. Fathoni Yasin            : m_fathoni_yasin@telkom.net
7. Aidil                          : ptg@bni-life.co.id


 
Atau ke nomor telepon : 0813 – 16 3738 04 (sementara sms saja ya) </SPAN>J


 
Sekali lagi, semoga dari hal-hal sederhana ini kita bisa saling berbagi dan menginspirasi satu sama lain, di tengah kehidupan perkotaan yang semakin kering dan hedonis ini. Semoga.


www.sahabatberbagi.multiply.com

Blog EntryKisah Mengharukan Semoga BermanfaatAug 28, '07 10:34 PM
for everyone

Mungkin ada yang pernah baca kisah ini, tapi semoga tetap bisa menginspirasi hari kita saat membacanya kembali.

Salam

Epri Tsaqib

----------------------------------------------------------

Aku Menangis Untuk Adikku 6 Kali

 

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata ber- cucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. .."Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit.Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku.

Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.

Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata- kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Sumber: Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"
(Dari email seorang teman ; Pic taken from flickr)


Blog EntryTips Biar Tak Gampang StressAug 15, '07 8:00 AM
for everyone

 

Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi
lamanya kita memikul beban tersebut.
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress,
Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada
para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas
air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini
bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa
lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada
masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan
saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari
penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk
saya.Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya
memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun
kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan
meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita
lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat
sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar
kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini,
tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu
dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak
anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah
beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan
memanfaatkannya. ..!! Hal terindah dan terbaik di dunia
ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat
dirasakan jauh di relung hati kita.

Start the day with smile and have a good day.


Blog EntryPesan Si Pitung Buat Warga JakartaAug 7, '07 4:10 AM
for everyone

Pertama, lo baca bismillah dulu sebelom nyoblos

Kedua, coblos pemimpin yang sholeh, yang suka nangis sendirian kalo malem karena sibuk mikirin nasib warganye yang susah makan dan kebanjiran
sepanjang taon.

Bukan yang tukang ngibul
yang sukanye nyusahin hidup orang-orang kecil,
ngebiarin anak-anak yatim dan anak jalanan gak keurus
sementara die malah hidup adem-ayem dan kaye raye.

Ketiga nih gue kasih tau, pemimpin yang baek yang
sederhane, yang amanah yang suka sujud, rendah hati
dan keliatan visi perubahannye.
Die mau laper kalo rakyatnye laper, die mau duluan
jadi tumbal kalo hak-hak lo dilanggar, die tunjukin
pengorbanannye, jiwa ame raganye tanpa lo minta.
Percaya ame gue, orang tulus keliatan dari mukenye
dari matenye, temen-temen deketnye,dari sikapnye.
Nah lo perhatiin deh itu semua ye.

Keempat, lo catet semua janjinye!
Kalo die mangkir, lo ingetin. Tapi kalo die masih budeg,
lo ambil aje aer wudhu, sholat 2 rakaat trus lo do'ain
aje die budeg beneran dan seumur-umur tidurnye dapet
mimpi apes. Inget kate Rosul, do'a orang yang teraniaye
bakalan makbul gak ada batesnye.

Terakhir, gue gak demen lo semue jadi pengecut.
Siapapun pemimpinnye, lo musti lapang dada meski kalah.
Gue benci jagoan kesiangan, gue benci pengkhiat.

Inget dunie gak seberape. Jabatan bukan segala-galanye.
Kalo elo cinte Jakarte, ayo bersatu, ayo berbuat!
kerjaan makin banyak, hidup orang kecil makin suse,
kalo bukan kita yang bela rakyat kite, trus siape?

 

Epri Tsaqib, 2007

Warga Jakarta biase

 

 


Blog EntrySoal Seputar Cinta LagiJul 10, '07 3:00 AM
for everyone

Aduh, kalau saya ingat ini saya jadi malu sama diri sendiri. Semoga setelah ini hati saya makin sensitif terhadap cinta. amin.

Epri Tsaqib

-----------------------------------------------------------


Ummul mukminin ‘Aisyah ra. menyampaikan, “Seringkali ketika kami sedang asyik bercakap-cakap dengan Rasulullah saw., tiba-tiba beliau seakan tidak mengenali kami. Yaitu jika terdengar seruan adzan.”

Begitulah Rasulullah saw. dalam mencintai Allah. Beliau telah mempersembahkan seluruh hatinya kepada Allah. Apa pun yang dicintainya di dunia ini (beliau menyatakan bahwa beliau mencintai wanita, dan ‘Aisyah adalah wanita yang paling dicintai sepeninggal Khadijah) tak akan pernah mengalahkan cinta beliau kepada Allah. Maka ketika adzan dikumandangkan, hati beliau pun segera ‘terbang’ meninggalkan dunia ini, tidak mengenal siapa-siapa lagi, meski itu wanita yang paling beliau kasihi.

Dan begitulah hati. Ibarat bejana ia mesti dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah. Jika tidak, bagian yang kosong itu pasti akan diisi oleh kecintaan kepada selainnya. Jika sudah demikian adanya, ia tidak akan diterima oleh Allah. Hati hanya boleh diisi dengan kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa saja yang diperintahkan atau diizinkan oleh-Nya.

Dan begitulah cinta, ia hanya ada dua: cinta kepada Allah serta cinta karena-Nya, dan cinta kepada selain Allah serta cinta karena selain-Nya. Keduanya akan memperebutkan hati, tempat terbaik untuk bertahta. Keduanya tak mungkin rela berbagi.

(Abu Zufar : Judul Melacak Jejak Cinta point 1) Sumber : Ar Risalah


Blog EntryBegitu Indahnya di Jalan Ini Jul 3, '07 4:15 AM
for everyone

Dear All,

 

Ini ada kisah nyata yang setiap kali saya baca, saya sering malu terhadap diri saya sendiri. Karena ternyata diri saya masih begitu kerdil dalam perjuangan menuju Ridho Alloh Sang Pemilik seluruh alam raya. Yang tak boleh disekutukan oleh siapapun dan apapun di dunia ini (baris terakhir ini saya tulis karena belum lama saya berdiskusi panjang lebar dengan rekan saya yang mempercayai Tuhan itu 3 dalam 1, semoga Alloh memberi hidayah kepadanya) juga kepada saya agar lebih istiqomah di dalam jalan yang indah ini.

 

 

Wallohu 'alam semoga bermanfaat

 

Epri Tsaqib

 

****************************************

Pengantin Bidadari



Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian...


***

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal
sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya
termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun
tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak
melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di
kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis
dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat
yang dekat dengan Rasulullah. "Coba engkau temui langsung Baginda Nabi,
semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu", nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil
tersenyum beliau berkata:
"Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?" "Seandainya itu adalah
saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan
kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran
dari siapapun.

"Katakanlah aku yang mengutusmu", sahut Baginda Nabi.
"Baiklah ya Rasul", dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah
si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
"
Ada
keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?" Tanya Fulan.
"Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si
A." Jawab Zulebid sedikit gugup.

"Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada
putriku." Fulan menemui putrinya dan bertanya, "bagaimana pendapatmu wahai
putriku?"
Jawab putrinya, "Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah
saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya."
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid
kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata," duhai Anda yang di wajahnya
terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini?
Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?"
Jawab istrinya, " Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku.
Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada
kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin."

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar
pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki
mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan
berjihad dalam perang. Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.


"Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian
besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad
melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum
keberangkatanku ke
medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan
hidup kita ini."


Istrinya menyahut, "Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya
kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya
terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu"

***
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke
medan
perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing
hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek
terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid...ketika sebuah
anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di
dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang
berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak
beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil
bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu
dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat
akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman
sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati,
dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya.
Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis
menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk
memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan
dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum
menghiasinya. ...Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***
Senja datang
Angin mendesau, sepi...
Pasir-pasir beterbangan. ..
Berputar-putar. ..

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di
antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar
di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu
tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan.. .
Tanpa dikafankan.. .


Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di
samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian
terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang
di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah
menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan
pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan
mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para
shahabat lalu bertanya-tanya,
ada apa dengan Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?"
Jawab Rasul, "Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi
engkau datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah
hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang
menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin."

"Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?" Tanya sahabat lagi.

" Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan
udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak
menjemput Zulebid," Jawab Rasulullah.
"Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke
samping?" Tanya mereka lagi.
"Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking
banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut
memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari
tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya.... "


***


Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika
terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala
Maha Karya.

Malam menjelang...
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum,
namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula. Terdengar Zulebid berkata,
"Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari
sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan
menggumamkan cemburu padamu.... "
Dan
kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah...
Ada
sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
"Suamiku, aku mencintaimu. ..
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas....


***


Somewhere over the rainbow, way up high
There's a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream
really do come true..

Dan,
Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia..


***


Untuk para pengantin bidadari


Blog EntrySoal Sakit Pekan KemarinJul 2, '07 4:51 AM
for everyone

Hari Selasa sore, tibatiba hidung saya mampet.
Sebentarsebentar ke kamar mandi. Badan jadi anget
tapi saya malah kedinginan. Setelah pakai jaket
tetap saja tak pengaruh. Akhirnya karena kepala
makin pusing saya putuskan pulang. Saya tak kuat.

Padahal hari itu saya janjian sama mas Jonru dan
mas Husni 2 rekan saya di Penulis Lepas untuk
sharing soal buku Antologi Puisi, di mana rencananya
saya diminta untuk ikut bantubantu ngedit dll di
Taman Menteng sekalian lihat acara Hari Anti Narkoba.
Begitulah akhirnya saya memilih istirahat di rumah,
minum obat dan berselimut. brrrr...

Saya termasuk jarang sakit, cuma ternyata saya masih
tergeletak sampai besoknya, sehingga saya tak ngantor.
Meski Alhamdulillah sore menjelang malam saya bisa
bangun dan menyemangati teman-teman kantor yang hari
itu jadi panitia FINAL KOMPETISI FUTSAL ANTAR CORPORATE
di GOR Cilandak.

Mana malam itu tibatiba hujan turun deras sekali. Dan
jadilah saya yang masih belum fit betul kedinginan
di pojok halte pondok indah sambil menyudutkan mantel
di sisi motor kesayangan saya menunggu hujan reda.

Alhamdulillah malam itu saya masih bisa pulang setelah
melihat siapa juara pertama FUTSAL tahun ini. Selamat
ya buat Tim Siemens yang kali ini bisa mengalahkan
juara bertahan IKPT lewat pertandingan yang mendebarkan.

Saya termasuk orang yang tidak betah diam memang,
karenanya meski masih kurang sehat besoknya saya
penuhi undangan rekanrekan sebuah asosiasi LSM yang
mengundang saya ke Bandung selama 2 hari dan jadilah
saya menikmati pertama kali menginap di Cottagenya
Darut Tauhid yang terkenal asri itu.

Walau jarang sakit, tetap saja kalau tiba waktunya sakit
pasti gak enak, aktivitas dan jadwal terganggu. Orang-
orang tercinta jadi repot dst. Bagaimanapun saya ambil
hikmahnya saja, saya jadi bisa kumpul sama anak-anak,
bisa mainmain sama mereka dan baca buku lebih banyak.
Semoga setelah ini Alloh memberi saya kesehatan yang
lebih baik karena bagaimanapun sakit itu gak enak.

Satu lagi setelah sakit, kita jadi bahagia sekali loh
maksudnya sehat itu jadi lebih disyukuri. Hari-hari
bisa terasa lebih cerah dari sebelumnya. Ini juga
mungkin hikmah lain lagi yang saya dapat setelah sakit.
Selain bisa ngeMP lagi tentunya.

Wallohu 'alam bissawab

 

Salam Kreatif.

Epri Tsaqib


Kalimat itulah yang paling ok buat saya untuk keseluruhan hari ini.

Kalau nurutin emosi sih, mungkin segala rasa jadi campur baur, gemes,marah, kesel, nyolot, pengen teriak ...(gado2 kalah deh) atau semacam pertanyaan-pertanyaan kecil, kok tega banget sih tuh orang, zolim amat sih, kenapa harus saya, kenapa bukan orang lain aja ....tapi dalam hati kecil saya yang lain buat apa? apa gunanya?

Rezeki manusia itu sudah ada YANG MENGATUR, tak akan pernah tertukar.

Rezeki adalah apa yang kita konsumsi, yang ada di tangan kita dan yang kita infaqkan di Jalan Alloh --> baik untuk sesama yang membutuhkan atau untuk berjuang di jalanNYA.

Saya yakin setiap kita 'kehilangan' sesuatu apapun itu, Alloh punya rencana dan ganti yang jauh lebih baik buat kita. Entah dalam waktu dekat, entah nanti, atau kalaupun tidak menjadi tambahan bekal amal sholeh kita saat kita meninggal atau 'menghadap' padaNYA nanti.

Begitulah, sekali lagi saya gak mau nyalahin siapa-siapa, Semua berasal dari Alloh
dan akan kembali kepada Alloh.

Ahh...kejadian tadi siang dan gerimis sore ini membuat saya jadipunya waktu lagi
melongok saat-saat 'jeda'. Sekali lagi saya cuma tersenyum, karena saya jadi yakin
akan mendapat 'sesuatu' yang jauh lebih baik lagi dari Alloh. Betapa Alloh tak akan
pernah luput terhadap Hamba-hambaNYA. amin InsyaAlloh....

Terimakasih Alloh untuk kejadian hari ini.

terimakasih...( terngiang Al-Qur'an Surat Al-Baqoroh ayat 155 s/d 157 )


Epri Tsaqib
*yang sedang diuji & 'insyaAlloh mau dapat yang lebih baik'. amin



Hari Ahad pagi-pagi yang cerah, setelah mandi 2 anak saya segera pakai baju, biasalah mereka berlari kesana-kemari. Kami mau pergi sama-sama hari itu, jadi ritual rutin adalah memandikan, memakaikan baju, sarapan, memakaikan sepatu mereka, siap-siap, baru berangkat ( ribet ya ...? begitulah kalau punya anak, ini aja baru 2 bagaimana kalau 13 ya? pasti seru hehehe ).

Selagi kami siap-siap, tiba-tiba si bungsu berlari ke arah ibunya sambil membawa handuk yang ditutupkan di kepalanya.

"Mi...Yusuf kayak nenek-nenek mi" katanya polos

Kami berdua melihat ke arahnya, lalu berpandangan dan pecahlah tawa kami.
Dasar anak-anak, pagi-pagi udah garing. Sekalian saja deh saya photo Yusuf dan Tsaqib kakaknya. Alhamdulillah lumayan narsis juga mereka. Silahkan saja dilihat gayanya di bawah ini. :)

Salam Sayang


Keluarga Kecil Epri Tsaqib

Blog EntryKisah Cinta Menyentuh Apr 13, '07 5:40 AM
for everyone

Saya dapat email dari teman, kisah yang menarik, semoga menginspirasi anda.

salam :)

---------------------------------------------------- 

Kisah Cinta Sepasang Kadal
   
Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.


Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.


Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.


Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu! Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya....AHHHH!
 

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.
 

Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
 

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan..... Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat.
 

Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang- orang yang kita kasihi


Blog EntryMemaknai Waktu Perjumpaan Yang IstimewaMar 5, '07 3:14 AM
for everyone

 

 

 

Saya belum pernah membaca buku ‘Pelatihan Sholat Khusyu’ nya Abu Sangkan, tapi saya pernah diberitahu  seorang ustadz bahwa sholat yang khusyu itu tak mudah. Sulit bagi kita untuk bisa benar-benar khusyu dari awal sampai akhir sholat kita. Tapi beliau bilang, setidaknya kita harus mengupayakan mempertahankan saat di mana kita merasakan konsentrasi tertuju kepada Alloh , Sang Khalik yang menjadi tujuan kita menghadap saat kita melaksanakan sholat. Jangan sampai ‘lost’ sama sekali. Kalau ini sampai terjadi, wah benar-benar merugilah kita. Kenapa begitu merugi?? Yah karena dengan begitu sebenarnya kita sedang kehilangan momen berharga kita bersama Pemilik Seluruh Alam Raya ini. Dzat tempat seluruh tumpuan  dan harapan kita dilabuhkan. Dzat yang menentukan bahagia dan tidaknya hidup kita, saat ini atau nanti.

 

 

Pernah satu saat saya merasa mata saya hangat sekali ketika sholat, memang saya tidak sampai menangis, karena saya sedang sholat di masjid dan ada begitu banyak orang. Tapi saya alirkan mata saya yang mulai basah dan berkaca-kaca itu ke hati saya. Ahh…hangat sekali rasanya ( padahal mestinya kan dingin ya…kan kena cairan J ). Saat itu saya merasa setiap lafadz yang terucap dari bacaan sholat saya menjadi begitu berarti buat saya. Kalau saya sedang sujud maka saya gunakan sebaik-baiknya menitipkan juga sebaris do’a yang begitu ingin dikabulkan olehNYA. Ketika saya sedang memujiNYA saat rukuk maka saya lantunkan tasbih padaNya begitu dalam sehingga makin terasa damai seluruh sendi tubuh saya. Hampir-hampir saya sungguh-sungguh ingin menumpahkan tangis bahagia saya ketika merasakan sholat senikmat itu. Tapi saya masih bisa menahan tumpahan airmata saya, hingga akhirnya kalimat salam terucap ke sisi kanan dan sisi kiri saya. Barulah kemudian saya tutup wajah saya dengan kedua telapak tangan saya. Dan mengalirlah seluruh kebahagiaan saya saat melewati waktu istimewa tadi.

 

 

Begitulah ...bahkan sampai saat ini, kalau saya mengingat sholat saya ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Pernah juga saya melihat sebuah perbincangan di televisi waktu bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, di situ ada seseorang yang bilang, ”Saya pernah sekali merasakan sholat cuma 2 rakaat, tapi saya merasa sangat khusyu dan tahukah anda rasanya nikmaaat sekali.” lalu orang itu melanjutkan,”Andai ya..setiap sholat kita bisa seperti itu”. Subhanalloh bagaimana kalau orang itu bisa rutin menangis di sepertiga malam terakhir secara rutin sebagaimana Rasulullah dan para sahabat terbiasa melakukannya? Bisa kita bayangkan bagaimana stabilnya jiwa seseorang yang bisa merasakan sholat yang khusyu.

 

 

Imam Syafi’i pernah memberi tips pada kita, ”Bila kamu sholat maka bayangkanlah bahwa sholat kamu itu seperti sholat yang terakhir” sebuah nasihat yang tepat sekali andai kita bisa mengkondisikan hati kita seperti itu sebelum memulai takbiratul ihram atau bahkan sebelum mengucapkan niat ketika hendak sholat.

 

 

Sesungguhnya sholat yang khusyu dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana firman Alloh di dalam Al Qur’an Surat Al-ankabut : 45. Lalu Alloh juga menegaskan di ayat yang sama,”Sesungguhnya  mengingat Alloh ( sholat ) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain dan Alloh mengetahui apa saja yang kamu kerjakan”

 

 

”Sesungguhnya sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikannya maka ia menegakkan agama, siapa yang melalaikannya maka ia sedang meruntuhkan agama” ( Hadits Riwayat Baihaqqi )

 

 

Ahh.. saya cuma mau sekedar sharing saja, sama sekali tak bermaksud menggurui, agar saya juga selalu berusaha menjadikan sholat saya sendiri menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu, baik dalam hal ketepatan waktunya juga kualitas maknawinya. Amiin. Semoga bermanfaat ya.

 

 

Wallohu ’alam bissawab

 

 

 

Epri Tsaqib

http://epriabdurrahman.multiply.com

 


Blog EntryBelajar Mencintai Mar 1, '07 10:00 PM
for everyone

 
Mari Kita Belajar Mencintai


Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang yang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.

Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka.

Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun Negara baru itu: “Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai.”

Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pecinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.

Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu.

Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyatan. Dan dengan begitu, cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.

Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana.

Rasulullah saw bersabda: Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.”

Ini menjelasakan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetic, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita.

Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.

Sumber : Anis Matta, Lc Kolom Thumuhat, Tarbawi, Edisi 148 Th. 8, Muharram 1428H

www.portalinfaq.org
www.portalinfaq.org.uk
http://pondokyatim.multiply.com

**keterangan foto : Hasil karya anak yatim Pondok Yatim Baitussalam Jogjakarta
 

Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.