Epri's posts with tag: puisi
 Saya bersyukur sebuah sms membawa pesan menyenangkan dari majalah budaya GONG yang pertama kali saya kenal ketika mengikuti The 1st International Poetry Gathering di Medan tahun lalu. Saya salut sama majalah GONG, selama ini kalau karya-karya saya dimuat di media massa hampir tidak pernah ada redaksinya yang memberi kabar ke saya sebagai penulis. Biasanya seorang kawan memberitahu via sms atau kalau tidak saya sendiri yang tahu setelah karya tersebut dimuat. Tapi Majalah Gong tidak, mereka membuktikan dirinya profesional dan menghargai betul para penulis. Sebuah langkah sederhana yang patut dicontoh media-media massa lainnya untuk lebih menghargai para penulis. Terimakasih majalah GONG. Sukses untuk kalian ya. Epri TsaqibPenyair ---------------- Berlariaku berlari pada puisilalu kami saling mengurai nyeridan begitu sibuk mengumpulkan airmataEpri Tsaqib 2003-2006 Perjalanan Celanadalam: HAH Setelah berkelana kesana-kemari celanadalam itu merasa lelah, ia begitu rindu ingin pulang "memang apa yang begitu ingin kau lakukan begitu sampai di rumah?" tanya celanadalam lain yang juga merasa hampa dengan kesepiannya : aku ingin memeluk erat rasa malu Epri Tsaqib, 2007
 | Jamaah | May 5, '08 10:04 PM for everyone |
 Jamaah sungguh, aku rela meski hanya jadi sebutir pasir yang melengkapi pantai biru perawan di langit cerah, dengan nyiur melambai dan deburan merdu laut, dalam sebuah potret aku rela meski hanya jadi sebutir pasir di pemandangan indah itu : sungguh Epri Tsaqib, 1997 - 2007 Dimuat di majalah An Nida, Mei 2008 Pic taken From http://farm2.static.flickr.com Saya menerima wesel dari majalah ini, jumlahnya tidak seberapa memang tapi mendapatkan lembaran wesel jadi ingat zaman dulu banget kalau habis menulis dimuat dan dapat honor hehehe...Secara tahu sendiri kan hari gini biasanya orang senangnya model transfer. Btw, tks ya AnNida.
 | Gerimis | Apr 10, '08 6:27 AM for everyone |
Gerimis* mungkin setiap tetesmu adalah puisi katakata ritmis yang berjatuhan dari langit membawa pesan rindu Epri Tsaqib *dimuat di harian Seputar Indonesia **pic, sumber belum berhasil ditemukan, terimakasih buat fotografernya, karya anda indah :)
Beberapa puisi saya dimuat di Harian Seputar Indonesia [Sindo] pada hari Minggu, 2 Maret 2008 kemarin. Ini saya posting salah satunya ya. Kalau penasaran sama yang lainnya, silahkan saja beli korannya hehehe...[sekali-kali bantuin media massa yang sudah muat karya saya :)] Selamat menikmati ya ... Epri Tsaqib --------------------------------------- Kematian Tuhan membuat pelangi sebagai jembatan dan Izrail membekaliku sayap tuk menitinya sampai ke rumahMU tapi ia segera pamit di depan jalan tusuk sate itu Epri Tsaqib **Pic by Jaroslaw Kukowski - "Angel with broken wing…"
 | Mimpi | Feb 11, '08 9:32 PM for everyone |
Mimpi semalam aku bermimpi mendaki gunung lagi di tengah perjalanan aku menemukan sungai yang airnya bening sekali sebuah kolam besar yang begitu menawan diapit temboktembok gunung yang gagah menjulang dan aku segera tak tahan untuk berenangrenang, berlompatan, menyelam dan bermain sepuaspuasnya tibatiba saja aku terbangun dan anehnya aku hanya teringat satu hal : bola matamu yang teduh sepasang mata indah yang bisa membuatku tenggelam karena begitu asyiknya berenangrenang di situ ahh...mimpi yang aneh, kenapa aku malah kembali tertawan? Epri Tsaqib, 2007
 Kemana Kau Pergi Saat Kesepian Mencegatmu? : ke rumahMU Terus saja kau tangkap dingin harihari yang tanggal sisakan tangistangis sepersekiannya adalah sungging ujung bibir lalu jejak diari yang tercecer oleh himpitan, perjalanan, lompatan, penundaanpenundaan dan berbaris luka Untuk apa? : sekedar mencatat sekedar mengurai resahresah lalu terlempar lagi ke kolamkolam hening Meski Senin dan Minggu selalu berhasil menyalipmu di tikungan? Dan kau selalu terengahengah antara Desember dan Januari? Untuk apa? mengungsikan sepi denganMU menggarisbawahi tandatanda : izinkan aku terus bertandang Tuan Epri Tsaqib, 2007
 Alhamdulillah, sebuah website sastra di dunia maya belum lama ini menggelar ajang pengumpulan naskah-naskah puisi dari para penyair di tanah air dan dibukukan dalam sebuah naskah elektronik atau yang kita kenal juga dengan istilah e-book. Di antara nama-nama penyair yang masuk ada nama saya terselip di situ dengan 5 buah puisi saya di dalam buku tersebut. Rencananya buku elektronik ini juga akan dibukukan (Hard copy) bila ada sponsor yang mau mendukung. Nah bagi anda yang tertarik untuk menjadi sponsor atau menerbitkannya silahkan hubungi saudara Dino melalui email : valdinho74@yahoo.co.uk dan perangkai_kata@yahoo.com (itu pake underscore atau garis bawah ya) Karena saya bukan panitia, saya belum tahu apakah buku elektronik itu bisa dibagikan kepada anda atau tidak. Silahkan anda menghubungi redaksi@fordisastra.com untuk konfirmasi. Dan inilah nama-nama sebagian penyair di dalam buku elektronik tersebut : Abdul Mukhid, Angggoro Saronto, Bumi Kelana, Dedy Tri Riyadi, Dian Hartati, Dino F. Umahuk, Doel CP. Alisah, Epri Tsaqib, Gita Pratama, Haris Firdaus, Hasan Aspahani, Hesti Melinda, Inez Dikara, Jibsailz, Kinu Triatmodjo, Kunthi Hastorini, Lubis Gafura, Nanang Suryadi, Ook Nugroho, Pakcik Ahmad, Pradnya Paramita, Rio Gunawan, Setiyo Bardono, TS. Pinang, Pena bulu angsa (Maya), Yohanes Sugianto, dan lain-lain. Oiya judul e-book nya Antologi Puisi Fordisastra ”Kemayaan dan Kenyataan” www.fordisastra.com www.komunitaspuisi.multiply.com
Kepada Pencopet 1 Padamu, kutitipkan si hitamku berikut KTP, STNK, dan selembar puisi tentang matanya : yang menjajah malammalamku tanpa ampun sungguh teganya ....... teganya 2 Hei, Kembalikan jantungku ke mimpinya! 3 PS : penting Bisa kau bantu aku mencopet gemericik titik air di ruang sepinya untukku? Epri Tsaqib, 1999
 GUBERNUR SEHATI Jakartaku sedang menunggu dipinang Penguasa sederhana yang mau macet ---------------------------------------------------- DOA RAKYAT KECIL Preman sudah menumpuk di kota kami Tolong jangan sampai tambah sepasang lagi! ---------------------------------------------------- KUTUNGGU KAU Hari ini kupingkuping kami kau paksa menelan bius janjijanji Awas! sekali ingkar, tunggulah sembilu laknatlaknat kami yang terhunus di setiap mimpimu : hingga hatimu kerontang meranggas ---------------------------------------------------- PANTUN SI OMEN Gubernur yang cemen bikin banjir permanen Epri Tsaqib, 2007

Di tengah sayupsayup teriakan para penggerogot di timur pulaupulau Indonesia Raya begitu membahana menatap suluh matahari di stadion utama senayan "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!" : Ini tanah kita, ini gawang kita Meski skor 2-1 tak jadi luntur di sumir senyum wasit yang payah Epri Tsaqib, 2007 *Foto diambil dari official website PSSI www.pssi-futball.com *Pertandingan tim Indonesia VS Arab Saudi di Piala Asia 2007
Susu Semakin Dewasa \1\ Susu sekarang sudah semakin dewasa ia sudah pandai memilih jalannya sendiri dan tak lagi begitu suka diatur-atur Bahkan penguasapun dibuatnya berkata "Itu di luar kami punya kuasa" Epri Tsaqib, 2007 
Puisi -- Rencana Pada 17 Agustus 2007 Akan kumenangkan semua lomba makan kerupuk agar aku lupa harga beras dan minyak goreng Merdeka!  Epri Tsaqib, Juni 2007
Diari Pemadat* Aku dijeratnya hingga ngungun mama tarikannya menjadikanku budak angkara ke lubang biawakpun aku rela Aku dirajamnya tanpa ampun mama hingga sinar bola mataku melata kuyu memanggilmu, pilu terbata Aku angin tanpa daya mama terseret teriakan badaiku sendiri menggapaigapai airmatamu Aku menggelepar di parit hitam mama semua sampah menimbun ragaku merintih sendiri di parau doamu : Perih...Perih sekali mama Epri Tsaqib, 2007 *Puisi dalam rangka hari bebas narkoba
 | Pergi | Jun 14, '07 11:15 PM for everyone |
Pergi Aku pergi menulis kamu lambaikan tangan bilang,"Selamat jalan, hatihati ya!" Padahal aku pergi ke dalam ruang sepi hatimu Suatu saat kalau kau sudah sadar, kau pasti akan bilang,"Selamat datang, kau betah di sini kan sayang?" Epri Tsaqib, 2007
\2\  Kini aku yang mencoba bercermin tapi kenapa ada banyak sekali wajah di situ? Kupandangi satu persatu Kutatap yang paling aku tapi kenapa ia selalu saja menagis? \3\ Aku ingin menghiburnya, bertanya kenapa dan apakah ia sungguh aku? Ia kini buyar perlahanlahan dan menjelma menjadi keranda Epri Tsaqib, 2007 *Cermin Sepi (1) bisa dilihat di http://epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/68
Korban Hujan \1\  aku adalah korban hujan dengan tetesnya yang gemulai di bawah sinar lampu jalan dicacahnya imaji ritmis di kepalaku hingga puisi berterbangan aku adalah korban hujan kau tusuk-tusuk aku hingga malamku rusak teracak tarian kata yang melata menelaga \2\ aku makin tahu sekarang kenapa aku adalah korban hujan : karena kau adalah airmata suci ibu yang dikirimkanNYA untukku ah... aku tahu sekarang. Epri Tsaqib, terjebak hujan di penginapan ; Medan 2007 *pic taken from idletype.com
Menghampirimu* : Kepada puisi \1\ Jauh-jauh aku menghampirimu membacakanmu, merayakanmu aku tak begitu suka pesta tapi aku begitu ingin meninggikanmu memulyakanmu bersama orang-orang yang mencintaimu atau mulai menaksir kamu lalu merayumu dengan berbagai cara yang mereka fahami aku menjelajahimu merengkuhmu penyair-penyair tersesat dalam nikmat menelusurimu \2\ aku menghampirimu melukiskanmu merayakanmu dalam hangat kepul kopi hujan meningkahi kita, kata dan kota dadaku pasif diperkosa asap rokok para penyair kopi terseruput satusatu kisah-kisah mengalir sederas titisan sulur air langit aku tetap di sini menantimu melukiskanmu merayakanmu dalam rintik hujan : aku mengapung dalam sepimu yang hangat \3\ hujan terus memintaku menuliskanmu dalam pesta aku terus menelusurimu meski aku tahu ini jalan berkelok tak berujung dan kau tetap memantul dalam cermin waktu : menelusuriku "Hey...ayolah! Tidakkah kau cukup memasungku menjadi pecinta yang setia dalam galau? Tidakkah kau lihat? Begini rupa aku tersesat di fotomu." Epri Tsaqib, 25 Mei 2007 Taman Budaya Medan *Foto M. Raudah Jambak dan tim teater dalam gerak dan puisi penampilan yang indah sekali pada puncak acara pembukaan Pesta Penyair Indonesia 1 di Medan.
Surat Untuk Ibu* dengan semua warna pelangi ku gores surat untukmu ibu aku ingin dengan surat ini kau bisa berikan senyum lembutmu di hamparan jagat langit malam ini sebelum aku tertidur sudah hampir penuh halaman ku tulis surat ini untuk kupersembahkan hanya padamu ibu tapi entah mengapa meski seluruh jengkal tubuhku bergetar saat menulis, hanya satu kata yang selalu sama tertulis di seluruh baris surat ini : Rindu Epri Tsaqib 19 Desember 2006 * Dimuat di majalah Annida edisi April 2007
Puisi Yoga Sastra Tanpa Mantera*
: Sigit Susanto
\1\
Duduk bersila Ibu jari tangan dan telunjuk bertemu kosongkan pikiran dan mulai ambil nafas perlahan meditasi pagi menyibak kerak polusi jiwa tanpa suara
\2\
seluruh sendi meregang jalan darah mengalir dalam irama gerak
\3\
mata terpejam tubuh terbujur nafas teratur pelan mengalir
bayangkan...
jari-jari kaki hilang
atur nafas tetap perlahan
dua pergelangan kaki hilang
atur nafas tenangkan pikiran
kedua paha hilang kita terbujur tanpa kaki
nafas pelan mengalir mata terus terpejam
sekarang tangan kiri hilang tangan kanan tiada
.........
tinggal tubuh separuh dan kepala
nafas tetap teratur mata terpejam
pinggang tiada dada tiada leher tiada tinggal kepala
nafas perlahan mata terpejam
mulut tiada hidung hilang
perlahan
mata menghilang kepala lenyap seluruh tubuh tiada menyatu bersama tanah, pohonpohon langit dan seluruh alam
: kita tiada
terbang sebagai ruh dalam bayangan bening
Epri Tsaqib, 2007
*sepenuhnya ini hanya gerakan olahraga dan meditasi tanpa mantera-mantera, itu sebabnya saya mau ikut mencoba waktu itu dan itu yang pertama kali. Saya tidak sedang merekomendasikan sesuatu, hanya tulisan catatan perjalanan dalam puisi ^_^.
 | Bunga | May 10, '07 11:23 PM for everyone |
\1\
dalam sempitnya waktu yang kau beri
setiap detiknya adalah kenangan cinta
setiap kelopak, garis dan bilah warna
semua terpatri dalam satu kata
: Indah
Epri Tsaqib, 2006
| |