Assalamu 'alaikum Warohmatulloh,
Kemarin saya menerima SMS dari rekan saya di Jogja :
"Innalillahi
wa inna ilaihi rojiun Pak, pada rabu malam sekira 22.30, telah wafat KH
Zainal Arifin Thoha di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta karena serangan
jantung. Doakan ya, juga buat kami yang ditinggalkan..hiks"
Ketika peluncuran dan
pembacaan puisi buku Antologi Empati Jogja, Zaenal Arifin Toha ikut
hadir dan membacakan puisi. Di akhir pembacaan beliau mengajak kami
semua yang hadir untuk merenung dengan adanya musibah-musibah yang
terjadi di Indonesia. Hadirin diajaknya bersholawat dan beristighfar.
Selesai acara kami sempat ngobrol sebentar dan berpamitan dengan
pelukan hangat sambil berucap terimakasih, seolah kami sudah kenal
begitu lama.
Ahh...kenangan yang tak begitu lama buat saya. Tapi
saat menerima sms itu saya merasa ada ruang yang menjadi kosong di
dalam hati saya. Sosok sederhana itu telah pergi menghadapNYA
mendahului kita. Tapi semangat berkarya dan berbuat bagi sesama yang diwarisinya, akan tetap kami simpan sahabat.
Selamat jalan sahabat....
: kami juga menunggu giliran
----------------------------------------
Berikut ini kenangan yang ditulis mbak Labibah tentang almarhum di blog nya :
KH
Zainal Arifin Thoha : Beliau adalah salah satu dari sekian penyair yang
hidup dari menulis, mengajar, dan mendirikan pesantren kepenulisan di
Krapyak Jogjakarta.
Ia
dengan sekuat-kuatnya mendidik anak-anak muda untuk mau menulis dan
menulis dan menulis; sekaligus ia juga telaten melatih para muridnya
itu mencintai kematian sehingga selain rutin melakukan pengajian
tasawuf, pesantren ini punya tradisi melakukan muhasabah di pelataran
kuburan.
Di kalangan penyair, Gus Zainal seangkatan dengan Hamdy Salad, Abidah, Jokpin, Kuswaedi Syafe'i, sejumlah penyair lainnya.
Gus, akhirnya engkau Zainal bisa tenang di dalam buku abadi. Ajaran dan petuah-petuahmu akan selalu dikenang oleh murid-muridmu.
Saya shock! Langsung saya guncang-guncang tubuh suami saya, "Mas! Mas! Zainal Mas!"
Bersama-sama kami meneliti email tsb. Benar! Ada dua email tentang meninggalnya Zainal ini.
Saya mencoba telpon ke Hp Hamdy Salad tetapi, belum nyambung.
Mas Ali tampak istighfar berkali-kali.
Zainal,
kami mengenalnya dalam ajang lomba baca puisi di kampus. Saya, Mas ali
dan Otto Sukatno Cr sebagi juri. Sedang Zainal adalah Mahasiswa baru
yang menjadi peserta baca puisi.
Kemudian ketemu lagi ketika dia masuk mendaftar sebagai anggota baru di Teater Eska.
penampilannya sudah nyeniman sekali waktu itu. Tetapi memang biasanya yang nyeniman gitu yang awet keanggotaannya di dunia teater. Karena kalo tak nyeniman berati bakat aktingnya dipertanyakan. hahaha
Memang nyenimannya
Zainal, bukan tak menghasilkan. Dalam kurun setahun, dia sudah
mendirikan teater sendiri di Fakultas Dakwah dengan nama Teater Cordova.
Dan namanya terus muncul di koran-koran baik berupa cerpen, puisi maupun essay budaya.
Zainal
dan kami akhirnya memang akrab. Bersama Joni Aryadinata, Mathori A
Elwa, dan suami saya mereka sering berkumpul sekedar ngopi-ngopi..
Apalagi kemudian, dia dan Maya, isterinya sering datang juga ke rumah
saya karena rumah kontrakan kita berdekatan.
Zainal dengan
vespanya menjadi sangat khas. HP motorolla pertama dia, sayalah yang
mewarisinya. Ketika kami sekeluarga hendak berangkat, Zainal dan
isterinya ikut kumpul-kumpul dirumah kontrakan saya.
Taun
2004, saya kembali ke Indonesia untuk Riset. Sempat ketemu Zainal di
Sanggar Eska. Sudah menjadi dosen, orang-orang memanggilnya Kyai, sudah
punya pesantren (tak seperti penyair Asep Zam Zam Noor yang enggan
mengikuti jejak ayahnya yang kyai, Zainal nampaknya merasa wajib untuk
mewarisi jalan yang ditempuh ayahnya dan tentu saja sosok Zainal
beserta ilmu yang dimilikinya memang sangat kwalified untuk dipanggil
Kyai ) dan datang ke kampus memakai topi hajji. Masih dengan vespanya.
masih suka tertawa-tawa dan bercerita macam-macam dan bertanya ini itu
tentang keluarga saya.
Saya tak menyangka. Itulah pertemuan terakhir saya dengan Zainal.
Selamat jalan Zainal!
Semoga kau bahagia di sana. Aku yakin ilmu yang kau tularkan menjadi
amal jariah karena puisi-puisi, cerpen, essay dan juga pengajian dengan
santri2mu itu telah sedemikian mencerahkan.
Salam
Lbb dan Aly
*PS* Setelah Lutfi, isteri Kajey Habib yang meninggal tahun
lalu, kini kami harus kehilangan teman baik lagi. keduanya umurnya
sama-sama dibawah saya.
Terakhir ketemu Luthfi pada tahun 2004.
Dia sempat meminta saya nginep di rumahnya tetapi saya memilih nginap
di rumah Aning dengan pertimbangan Aning masih single lebih mudah untuk
direpoti.
ah Luthfi, kalu seandainya saya tahu...
Semoga kau juga bahagia disana.
--> http://maknyak.multiply.com/journal/item/13