Epri's posts with tag: artikel

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag artikel

SALEMBA



Alma Mater, janganlah bersedih

Bila arakan ini bergerak perlahan

Menuju pemakaman

Siang ini


Anakmu yang berani

Telah tersungkur ke bumi

Ketika melawan tirani



                                    Taufiq Ismail [Tirani dan Benteng], 1966
 

Membaca sajak ini membuat saya teringat tragedi melawan orde baru yang dialami para mahasiswa menuju era reformasi salah satu di antaranya  adalah dari kampus perjuangan Trisakti di bulan Mei tahun 1998. Enam kuntum muda berjaket alma mater biru tua yang bersimbah darah gugur di halaman kampusnya sendiri, ditembus peluru ’karet’ yang pastinya sangat tajam hingga dada-dada para pemuda harapan bangsa itu penuh darah dan roboh sebagai pahlawan.
 

Anakmu yang berani

<i style="">Telah tersungkur ke bumi

Ketika melawan tirani
 

Sejarah yang senantiasa berulang, begitulah adanya kisah itu diputar kembali melalui sajak yang ditulis Taufiq Ismail yang ditulisnya pada era perlawanan mahasiswa melawan orde lama, melawan kemiskinan yang menjepit rakyat, melawan tirani. Sejarah kembali diputar dengan lakon-lakon berbeda nama. Sekali lagi melawan tirani, meski dengan sikap itu para mahasiswa itu harus tersungkur ke bumi.


Buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng ini sendiri adalah buku yang ’terselamatkan’ dengan itikad baik sahabat Taufiq yakni Arief Budiman melalui edisi khusus majalah Gema Psicology. Ada kutipan dialog mengenai hal ini pada kata pengantar buku puisi ini yang diberi judul ’Sehabis Jam Malam di Stasiun Gambir’.


”Hei Fiq, biar aku terbitkan puisi-puisimu ini!” bujuknya. ”Tunggu dulu” jawab Taufiq, ”Jangan cepat-cepat. Biar aku endapkan dulu dan biasanya aku revisi. Ini ditulis masih seperti snapshot saja, belum diamplas. Belum sempat dihaluskan. Biar aku bawa dulu ke Pekalongan, besok aku mau pulang ambil batik dagangan.”


Arief tidak mau melepaskan puisi-puisi taufiq itu dari tangannya dan bersikeras menerbitkannya, hingga akhirnya Taufiq mengalah.

 

Esoknya ketika di stasiun Gambir sedang menawar becak untuk pergi ke Pal Putih 6, bungkusan batik dan ransel yang berisi naskah naskah puisi tulisan tangan dalam map semuanya hilang dicuri orang. Keterkejutan dan kesedihan Taufiq itu menjadi rasa syukur ketika ia mengingat bahawa ada sebagian naskah puisinya yang sempat dibawa Arief Budiman dan sekarang terangkum dalam buku Tirani dan Benteng ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah...gumam Taufiq. Dan inilah dia naskah yang selamat itu buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng yang mengalami 3 kali penerbitan yakni oleh Penerbit Faset [judulnya Benteng], kemudian kumpulan itu disatukan dan ditambahkan 32 puisi yang ditulis antara 1960-1965 [Puisi-puisi menjelang Tirani dan Benteng] dan terakhir oleh Yayasan Indonesia, 2005.

 

Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial ini berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan dan angan-angan, cita-cita dan tekad, setidaknya begitulah menurut Taufiq.

Ia yang memang mengalami masa-masa demonstrasi ini mengabadikan sejarah itu melalui puisi-puisinya dalam buku ini.


Coba bisa simak puisi berikut ini :


BENDERA


Mereka yang berpakaian hitam

Telah berhenti di depan sebuah rumah

Yang mengibarkan bendera duka

 

Dan masuk dengan paksa

Mereka yang berpakaian hitam

Telah menurunkan bendera itu

Di hadapan seorang ibu yang tua

”Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”


Mereka yang berpakaian hitam

Dengan hati yang kelam

Telah meninggalkan rumah itu

Tergesa-gesa


Kemudian ibu tua itu

Perlahan menaikkan kembali

Bendera yang duka

Ke tiang yang duka

                                    1966


Terasa sekali ini puisi ini adalah sebuah kesaksian terhadap kegalauan suasana politik yang terjadi ketika itu, sebuah kesaksian terhadap kedukaan seorang ibu yang boleh jadi juga mewakili seluruh negri ini karena sekumpulan mereka liris yang berpakaian hitam itu telah mengibarkan sekaligus menurunkan bendera duka itu sambil mengatakan dengan congkak bahwa ”Tidak ada pahlawan yang meninggal dunia!”, yang pergi dengan tergesa-gesa. Kemudian ditutup dengan paragraf terakhir yang begitu mendung, kemudian Ibu tua itu/ perlahan menaikkan kembali/ Bendera yang duka/ Ke tiang yang duka.


Bangsa yang kembali berduka atas tragedi kemanusiaan, kemiskinan dan situasi politik yang panas pada masa peralihan orde lama ke orde baru. Sebagaimana kini menjadi sangat aktual dengan kenyataan hari ini setelah era reformasi yang masih menyisakan banyak masalah meski untuk melewatinya kita telah mengorbankan 6 nyawa para mahasiswa di ujung peluru dalam kasus Semanggi 1 pada Mei 1998 dan sampai kini masih saja terkatung-katung kasus peradilannya padahal sudah 4 presiden berganti-ganti.

 

Dari penguasa ke penguasa, hal-hal mendasar yang menjadi hak rakyat samakin sulit untuk dijangkau oleh rakyat negri kita. Hari ini barang-barang kebutuhan pokok kembali melonjak, rakyat sebagaimana ibu tua dalam puisi Taufiq itu seperti ’dipaksa’ lagi untuk menaikkan kembali bendera yang duka ke tiang yang duka.

 

Yang menarik, Taufiq yang mantan ketua senat mahasiswa FKHP UI pada tahun 1960 -   1961, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI  (1961-1962) ini dikenal juga sebagai salah satu pendiri majalah sastra Horison yang paling lama bertahan di negri ini dan sampai hari ini masih eksis, dalam kumpulan buku ini membuat sebuah puisi dengan judul yang sama dengan majalah sastra yang didirikannya sebagai penanda semangat yang harus terus dipupuk meski semua badai riuh menghadang negri ini.


HORISON

Kami tidak bisa dibubarkan

Apalagi dicoba dihalaukan

Dari gelanggang ini


Karena ke kemah kami

Sejarah sedang singgah

Dan mengulurkan tangannya yang ramah


Tidak ada lagi sekarang waktu

Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu

Karena jalan masih jauh

Karena Arif telah gugur

Dan luka-luka duapuluh satu

                                                1966


Puisi ini juga menyelipkan catatan tentang kematian Arif Rahman Hakim yang telah menjadi semacam tumbal bagi buah perjuangan yang harus ditegakkan dan menjadi sejarah yang akan terus dicatat untuk terus diingat bahwa kami tidak bisa dibubarkan/ apalagi dihalaukan/ dari gelanggang ini.


Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang juga menjadi saksi sejarah masa itu melalui jasa baik Dr. Suroso Soerojo dan Dr. Rushdy Husein dan konon pernah juga dipamerkan dalam pameran foto Kebangkitan Generasi Muda di Universitas Indonesia [Ismid Hadad dari Biro Penerangan KAMI Pusat yang mengkoordinir], dengan perancang artistiknya kawan-kawan mahasiswa Seni Rupa ITB.


Puisi terkadang memang terlalu sulit untuk dilepaskan dari kehidupan pengarang pada zamannya. Melalui 63 sajaknya dalam Tirani dan Benteng, Taufiq telah memberikan tanda penting kepada kita bahwa melalui sastra kita juga memberikan kontribusi bagi bangsa, bukan hanya dengan mengolah karya berkesenian atau bahkan sekedar merekam sejarah, akan tetapi juga mengobarkan semangat berjuang, melawan ketertindasan dan kezaliman penguasa dengan caranya sendiri yakni melalui sastra. Tidak sedikit karya sastra yang bisa menjadi abadi dengan keberaniannya menerjemahkan cita-cita banyak orang untuk bangkit dari berbagai persoalan yang menghadangnya. Sebagaimana ajakannya dalam baris-baris Salemba dengan mengatakan Alma Mater janganlah bersedih/ Bila arakan ini bergerak perlahan/ Menuju pemakaman/ Siang ini. Atau baris-baris bernada kuat dalam Horison bahwa Kami tidak bisa dibubarkan/ Apalagi dicoba dihalaukan/ Dari gelanggang ini/ Karena ke kemah kami/ Sejarah sedang singgah.


Bukankah saat ini kita juga tak boleh dibubarkan begitu saja dengan berbagai tekanan dan kondisi hari ini? Bukankah saat ini, di gelanggang inilah waktunya kita tak boleh ragu-ragu melawan segala bentuk kesewenang-wenangan Tirani dan para antek-anteknya yang jelas tidak punya nurani dengan mempertontonkan ketidakpeduliannya terhadap rakyat dengan masih sempatnya seorang mentri dan pejabat menonton konser ’Diana Rose’ bertiket puluhan juta di barisan depan sementara rakyatnya sulit makan, tak mampu beli minyak tanah dan harga-harga kebutuhan pokok terus melambung serta anak-anak berwajah pucat satu persatu mati kelaparan didera busung lapar di setiap sudut negrinya?


Saya yakin dalam kondisi sekarang ini, Taufiq sepakat dengan rekannya sesama penyair yang ’hilang’ tak jelas rimbanya pada orde baru dengan goresan puisi terkenalnya, ”Hanya satu kata, Lawan!”. Sebuah puisi yang juga menjadi abadi karena diniatkan melawan Tirani yang membelenggunya.
 

”Apakah anda masih mau ambil bagian bersama dengan para penyair itu sekarang?”

”Bukankah boleh jadi sejarah sedang singgah ke kemah kita? dan anda para mahasiswa dan siapapun kaum intelektual negri yang besar ini, sedang ditantang menjadi pelaku dari sejarah itu sendiri?


Wallohu ’alam bissawab

 

Epri Tsaqib, Penyair

Maret 2008
 

Judul : Tirani dan Benteng, Dua Kumpulan Puisi

Penulis : Taufiq Ismail

Penerbit : Yayasan Indonesia
Cetakan : I, 2005
Tebal : 172 halaman

 


Blog EntryAbout Leadership Sep 25, '07 10:23 PM
for everyone

Berikut ini ada tulisan menarik dari rekan saya mbak Hani tentang pandangannya mengenai presiden dan kepemimpinan.

Semoga bermanfaat untuk jadi bahan renungan kita hari ini dan semoga para pemimpin kita (dalam kapasitas apapun  ) membacanya juga.

Salam dan terimakasih mbak Hani.

=========================

BILA PRESIDEN KITA AHMADINEJAD

Biasanya saya tak pernah menulis tentang politik, hanya mengawasi dan merenung sendiri. Namun masuk ke ramadan hari ke 13 ini,  tergelitik saya untuk buka suara. Bukan tentang Ahmadinejad yang sudah banyak diketahui orang sedunia, melainkan tentang presiden kita, ya, Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mengikuti pidato Ahmadinejad di kampus Universitas Columbia New York kemarin, saya melihat arus negatif luar biasa yang ditampilkan oleh media di Amerika Serikat, juga protes keras baik dari Lobi Yahudi maupun Lobi Amerika yang merasa terancam dengan kehadiran Presiden Republik Islam Iran tersebut.

Pagi hari ini, hampir seluruh surat kabar, media TV dan lainnya mengeluarkan sumpah serapah mereka terhadap Ahmadinejad. Tak kurang sebutan yang diberikan, hingga lucunya, presiden Universitas Columbia, Lee Bollinger sudah mencaci maki habis-habisan Ahmadinejad dalam pidato sambutannya.

Media massa Amerika Serikat memberi nama Ahmadinejad dari tiran, diktator, evil, liar, absurd, illicit, arrogan, hingga under educated (sempat disebutkan hanya berlevel kelas 5 SD). Padahal seorang Ahmadinejad adalah Professor yang notabene Guru Besar Fisika yang masih aktif mengajar S3 dan S2 di Iran.

Saat mengikuti di CSPAN ada juga suara orang Amerika Serikat yang menekankan bahwa orang di Amerika Serikat seharusnya mendengar langsung apa yang dikatakan oleh Ahmadinejad sebelum menyatakan opini mereka, dan setuju bahwa media massa di Amerika menyetir opini publik di Amerika Serikat. Ia juga menyarankan agar saat membaca berita baik cetak maupun internet untuk mengetahui siapa yang ada di belakang berita tersebut.

Kembali kepada Presiden NKRI, saya jadi merenung. Bila presiden kita Ahmadinejad, presiden kita akan mengambil resiko sebesar apapun untuk mempromosikan negaranya, untuk membuka pembicaraan diplomasi dengan 'macan sebesar apapun' demi untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negaranya.

Saya tutup kuping saya dari istilah yang menyatakan bahwa Ahmadinejad hanya macan ompong yang tukang pamer, bisanya hanya OMDO saja. Melihat dan mendengar apa yang disampaikannya, tidak ada yang baru, namun disitulah suatu hal yang saya acungi jempol. Persistensi dan kepandaiannya berbicara dan berdiplomasi inilah yang diperlukan oleh Presiden kita. Kemampuan nalar dan kemampuan ilmiahnya, didukung oleh kemampuan agama, dan kemampuan berpolitik.

Bila presiden kita Ahmadinejad, saya kira yang akan pertama dilakukannya adalah pembersihan korupsi dan berbagai suap-menyuap hingga sektor terbawah. Ia akan membersihkan korupsi terutama di Departemen Pendidikan Nasional, dan memberlakukan PENDIDIKAN GRATIS SD hingga SMA Negeri. Ia akan menyemarakkan negara dengan proyek Riset dan Teknologi yang bernas dan berhubungan langsung dengan Industri untuk membuka lapangan pekerjaan bagi banyak rakyat kita. Ia akan membuka kembali banyak BUMN negara yang terpaksu gulung tikar karena salah urus dengan kerjasama dengan sektor swasta. Pajak pendapatan akan diberlakukan keras, dan pejabat Pajak yang menerima hadiah atau meminta hadiah akan siap dipertontonkan di depan publik.

Untuk diplomasi LN? Ia akan melobi semua organisasi yang mengeruk harta rakyat Indonesia dalam bentuk bunga hutang yang tinggi. Menegosiasikan pemutihan bunga, memfokuskan pada pembayaran utang yang ada tanpa membuka utang yang baru. Dan dengan jelas menyelusuri dan menarik kembali harta rakyat yang dinikmati oleh para koruptor kemanapun mereka lari, bahkan setelah mereka masuk liang kubur sekalipun!

Fuih.....! Saya cubit diri saya sendiri. Ah saya tak mimpi. Bila Iran bisa bermimpi memiliki tenaga Nuklir sebagaimana negara-negara NATO, Indonesia malah kehilangan industrinya satu persatu. Saya menangis saat mendengar satu-satunya perusahaan industri kapal terbang Indonesia gulung tikar. Saya menangis saat mendengar banyak orang pintar Indonesia harus hijrah keluar negeri karena tak dapat memberikan nafkah yang cukup bagi keluarga mereka di tanah air. Soal Nasionalisme? Apakah nasionalis bila seorang PhD lulusan luarnegeri, bertahan menjadi penjual es di pinggir jalan di Indonesia daripada bekerja di negara jiran dengan keahliannya?

Terlalu sulitkah kita mendapatkan presiden seperti Ahmadinejad? Ia yang berjas murah, tidur hanya di atas hambal, dan makan duduk bersila. Apakah mimpi saya terlalu irasional mengharapkan presiden kita juga melakukan lawatan ke LN demi perbaikan kehidupan di Indonesia.

Mengharapkan presiden kita memperbaiki citra SDM Indonesia di LN sehingga tak semena-mena disakiti, dipukuli bahkan sampai digantung dan diadili tanpa didampingi penasehat hukum secara layak.

Hanya satu cara menaikkan citra negara dan rakyatnya. BERSIHKAN Indonesia dari korupsi dan manipulasi, stop praktek suap menyuap dan pemberian hadiah. Berikan PENDIDIKAN GRATIS SD-SMA Negeri sehingga kita tak dicap idiot, imbisil, oleh negara lain. Ahmadinejad yang Guru Besar saja dikatakan under educated oleh presiden Universitas Columbia, apalagi SDM Indonesia yang sarjananya tak diakui sederajat di sini, apalagi mereka yang tak mengecap bangku sekolah!

Banyak negara miskin mereka bisa memberikan pendidikan gratis pada rakyatnya, tanpa embel-embel sumbangan sana-sini, lihat India, Cina, lihat sekitar kita. Buka program-program profesional dan buka program lisensi nasional untuk pemerataan keahlian dan mendapatkan pengakuan keabsahan dari dunia.

India sekarang melesat pesat sebagai pemasok SDM dibidang IT, Teknologi, Engineering dan Medikal di seantero dunia, menyusul Cina dan kapan Indonesia?

Bila tak bisa memberikan lapangan kerja di Indonesia, setidaknya berikan rakyat bekal untuk hidup layak dengan bekal ilmu dan keahlian profesi yang dapat dijual di LN. Awalnya India dan Filipina terkenal dengan pemasukan devisa dari kiriman para perantaunya yang menjadi kuli Dolar, kuli Real di mana-mana. Kini? India menjadi negara baru dengan jumlah milioner yang membukakan banyak industri dunia di negara yang tak kalah semrawutnya dengan Indonesia.

Dulu kita bisa berbangga diri, orang Indonesia lebih berbau wangi dari mereka? Bagaimana kini? Meskipun selera kita selera 'tinggian' tapi negara kita penuh borok dan utang. Pilih mana? Maunya selera tinggi dan dompet tebal pula kan, selain berilmu, dan berincome tinggi. Soal Indonesia lebih agamis? Tunggu dulu.....malu ah bicara soal-soal agamis, bila prakteknya kita adalah negara paling korup di seluruh dunia, dan paling lemah penegakan hukumnya? Sebaik-baik iman adalah mereka yang berani menegakkan kebenaran, dan selemah-lemah iman adalah menentang di dalam hati.

Bila presiden kita Ahmadinejad, ia akan berani buka suara menegosiasikan banyak deal-deal perdagangan, maupun politik yang berat sebelah dan merugikan Indonesia. Ingatkah kita bagaimana kita kehilangan Timor Timur karena lemahnya diplomasi kita? Ingatkah kita bagaimana semena-menanya Malaysia mengklaim pulau Ambalat? Bagaimana campur tangan banyak pihak asing di Indonesia, dan menguasai harta kekayaan negara? Siapa pemilik bond harta rakyat kalau bukan negara-negara asing? Siapa pemilik perusahan minyak, gas, dan tambang kalau bukan negara asing?

Kita memerlukan investor asing, tapi bukan berarti kita menjual diri dengan murah untuk mendapatkan kerja sama mereka.

Apakah kita terlambat? Belum! Berkacalah kita pada Ahmadinejad. Ambillah segi positifnya, bukan negatifnya. Semangatnya untuk berdiplomasi hingga masuk ke mulut macan sekalipun.

Kita memerlukan pemimpin yang mempunyai keberanian, ilmu dan hati nurani dan yang piawai berdiplomasi.

Louisville, 25 September 2007

Hani ;  Louisville, KY USA


Blog EntryBegitu Indahnya di Jalan Ini Jul 3, '07 4:15 AM
for everyone

Dear All,

 

Ini ada kisah nyata yang setiap kali saya baca, saya sering malu terhadap diri saya sendiri. Karena ternyata diri saya masih begitu kerdil dalam perjuangan menuju Ridho Alloh Sang Pemilik seluruh alam raya. Yang tak boleh disekutukan oleh siapapun dan apapun di dunia ini (baris terakhir ini saya tulis karena belum lama saya berdiskusi panjang lebar dengan rekan saya yang mempercayai Tuhan itu 3 dalam 1, semoga Alloh memberi hidayah kepadanya) juga kepada saya agar lebih istiqomah di dalam jalan yang indah ini.

 

 

Wallohu 'alam semoga bermanfaat

 

Epri Tsaqib

 

****************************************

Pengantin Bidadari



Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian...


***

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal
sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya
termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun
tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak
melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di
kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis
dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat
yang dekat dengan Rasulullah. "Coba engkau temui langsung Baginda Nabi,
semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu", nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil
tersenyum beliau berkata:
"Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?" "Seandainya itu adalah
saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan
kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran
dari siapapun.

"Katakanlah aku yang mengutusmu", sahut Baginda Nabi.
"Baiklah ya Rasul", dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah
si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
"
Ada
keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?" Tanya Fulan.
"Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si
A." Jawab Zulebid sedikit gugup.

"Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada
putriku." Fulan menemui putrinya dan bertanya, "bagaimana pendapatmu wahai
putriku?"
Jawab putrinya, "Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah
saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya."
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid
kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata," duhai Anda yang di wajahnya
terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini?
Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?"
Jawab istrinya, " Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku.
Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada
kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin."

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar
pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki
mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan
berjihad dalam perang. Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.


"Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian
besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad
melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum
keberangkatanku ke
medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan
hidup kita ini."


Istrinya menyahut, "Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya
kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya
terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu"

***
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke
medan
perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing
hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek
terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid...ketika sebuah
anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di
dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang
berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak
beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil
bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu
dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat
akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman
sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati,
dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya.
Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis
menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk
memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan
dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum
menghiasinya. ...Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***
Senja datang
Angin mendesau, sepi...
Pasir-pasir beterbangan. ..
Berputar-putar. ..

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di
antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar
di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu
tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan.. .
Tanpa dikafankan.. .


Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid. Rasulullah terpekur di
samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian
terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang
di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah
menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan
pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan
mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para
shahabat lalu bertanya-tanya,
ada apa dengan Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?"
Jawab Rasul, "Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi
engkau datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah
hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang
menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin."

"Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?" Tanya sahabat lagi.

" Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan
udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak
menjemput Zulebid," Jawab Rasulullah.
"Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke
samping?" Tanya mereka lagi.
"Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking
banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut
memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari
tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya.... "


***


Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika
terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala
Maha Karya.

Malam menjelang...
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum,
namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula. Terdengar Zulebid berkata,
"Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari
sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan
menggumamkan cemburu padamu.... "
Dan
kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah...
Ada
sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
"Suamiku, aku mencintaimu. ..
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas....


***


Somewhere over the rainbow, way up high
There's a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream
really do come true..

Dan,
Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia..


***


Untuk para pengantin bidadari


Blog EntryTentang Beningnya KetulusanMay 23, '07 6:58 AM
for everyone

Ini ada kisah yang menurut saya sangat menyentuh, mungkin akan berguna buat kita semua.

Salam

Epri Tsaqib ^_^

---------------------------------

Namanya Ny. Thompson. Ia berdiri di depan ruang kelas 5 pada hari pertama tahun pengajaran, dan berbohong kepada murid-muridnya.

Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bahwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil. Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan, ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot namanya Teddy Stoddard.

Ny. Thompson sudah mengawasi Teddy setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik dengan anak-anak yang lain karena bajunya morat marit dan terlihat selalu perlu untuk dimandikan. Dan Teddy bisa jadi tidak suka. Itu semua mendapat penilaian, dimana Ny.Thompson kenyataannya akan memberikan tanda khusus di laporan Teddy dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Teddy.

Di sekolah tempat Ny.Thompson mengajar, ia diminta untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan cacatan Teddy di giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy ia terkejut.

Guru kelas satu Teddy menulis,Teddy adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan perkerjaannya dengan rapi dan memiliki hal-hal yang baik.Ia membawa kegembiraan bagi sekitarnya.

Guru kelas duanya menulis, Teddy adalah murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi ia terganggu karena ibunya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Teddy.

Guru kelas tiganya menulis, Ia mendengar kematian ibunya. Ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menunjukkan ketertarikannya dan kehidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.

Guru kelas empat Teddy menulis, Teddy menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah.
Ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.

Setelah itu, Ny. Thompson menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ketika murid-muridnya membawa hadiah natal, dibungkus dengan pita-pita yang indah dan kertas yang menyala, kecuali pemberian Teddy. Hadiah dari Teddy kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja.

Ny.Thompson dengan terharu membuka kado Tedy ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batunya hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya.

Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya.

Setelah sekolah usai, Teddy Stoddard tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, Ny. Thompson, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya. Setelah murid-muridnya pergi, Ny.Thompson menangis hampir selama satu jam. Hari berikutnya Ny.Thompson berhenti untuk mengajar membaca, menulis dan aritmatika. Sebagai gantinya ia mulai mengajar anak didiknya.

Ny. Thompson memberi perhatian khusus kapada Teddy. Selama bekerja dengannya, pikiran Teddy mulai hidup. Semakin ia mendorong Teddy, semakin cepat Teddy memberikan tanggapan.

Di akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ny. Thompson jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Teddy telah menjadi murid kesayangannya.

Satu tahun berlalu, Ny. Thompson menemukan sebuah surat dibawah pintu, dari Teddy, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Enam tahun berlalu sebelum ia menerima surat yang lain dari Teddy. Ia menulis sudah menamatkan SMU, ranking tiga di kelas, dan Ny. Thompson tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny. Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi.
Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ny. Thompson tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya. Tetapi namanya telah sedikit lebih panjang surat ditanda tangani oleh Theodore F. Stoddard, MD.

Kisahnya tidak berakhir disini. Masih ada surat lagi pada musin semi itu. Teddy berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ny. Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin. Tentu saja Ny. Thompson bersedia.

Dan coba tebak apa berikutnya? Ny. Thompson mengenakan gelang batu dimana beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Teddy dipakai ibunya pada Natal sebelumnya bersama-sama.
Mereka berpelukan, dan Dr. Stoddard berbisik di telinga Ny. Thompson, Terima kasih Ny. Thompson, anda mempercayai saya. Terima kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan.

Ny. Thompson dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata,Teddy, semua yang kamu katakan keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu.

Hangatkan hati seseorang hari ini meneruskan kisah ini kepada yang lain

Tolong ingatlah bahwa kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan punya kesempatan untuk menyentuh atau merubah diri seseorang.

Cobalah lakukan hal itu dengan cara yang positif. Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.

Fransye Monita

Blog EntryMemaknai Waktu Perjumpaan Yang IstimewaMar 5, '07 3:14 AM
for everyone

 

 

 

Saya belum pernah membaca buku ‘Pelatihan Sholat Khusyu’ nya Abu Sangkan, tapi saya pernah diberitahu  seorang ustadz bahwa sholat yang khusyu itu tak mudah. Sulit bagi kita untuk bisa benar-benar khusyu dari awal sampai akhir sholat kita. Tapi beliau bilang, setidaknya kita harus mengupayakan mempertahankan saat di mana kita merasakan konsentrasi tertuju kepada Alloh , Sang Khalik yang menjadi tujuan kita menghadap saat kita melaksanakan sholat. Jangan sampai ‘lost’ sama sekali. Kalau ini sampai terjadi, wah benar-benar merugilah kita. Kenapa begitu merugi?? Yah karena dengan begitu sebenarnya kita sedang kehilangan momen berharga kita bersama Pemilik Seluruh Alam Raya ini. Dzat tempat seluruh tumpuan  dan harapan kita dilabuhkan. Dzat yang menentukan bahagia dan tidaknya hidup kita, saat ini atau nanti.

 

 

Pernah satu saat saya merasa mata saya hangat sekali ketika sholat, memang saya tidak sampai menangis, karena saya sedang sholat di masjid dan ada begitu banyak orang. Tapi saya alirkan mata saya yang mulai basah dan berkaca-kaca itu ke hati saya. Ahh…hangat sekali rasanya ( padahal mestinya kan dingin ya…kan kena cairan J ). Saat itu saya merasa setiap lafadz yang terucap dari bacaan sholat saya menjadi begitu berarti buat saya. Kalau saya sedang sujud maka saya gunakan sebaik-baiknya menitipkan juga sebaris do’a yang begitu ingin dikabulkan olehNYA. Ketika saya sedang memujiNYA saat rukuk maka saya lantunkan tasbih padaNya begitu dalam sehingga makin terasa damai seluruh sendi tubuh saya. Hampir-hampir saya sungguh-sungguh ingin menumpahkan tangis bahagia saya ketika merasakan sholat senikmat itu. Tapi saya masih bisa menahan tumpahan airmata saya, hingga akhirnya kalimat salam terucap ke sisi kanan dan sisi kiri saya. Barulah kemudian saya tutup wajah saya dengan kedua telapak tangan saya. Dan mengalirlah seluruh kebahagiaan saya saat melewati waktu istimewa tadi.

 

 

Begitulah ...bahkan sampai saat ini, kalau saya mengingat sholat saya ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Pernah juga saya melihat sebuah perbincangan di televisi waktu bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, di situ ada seseorang yang bilang, ”Saya pernah sekali merasakan sholat cuma 2 rakaat, tapi saya merasa sangat khusyu dan tahukah anda rasanya nikmaaat sekali.” lalu orang itu melanjutkan,”Andai ya..setiap sholat kita bisa seperti itu”. Subhanalloh bagaimana kalau orang itu bisa rutin menangis di sepertiga malam terakhir secara rutin sebagaimana Rasulullah dan para sahabat terbiasa melakukannya? Bisa kita bayangkan bagaimana stabilnya jiwa seseorang yang bisa merasakan sholat yang khusyu.

 

 

Imam Syafi’i pernah memberi tips pada kita, ”Bila kamu sholat maka bayangkanlah bahwa sholat kamu itu seperti sholat yang terakhir” sebuah nasihat yang tepat sekali andai kita bisa mengkondisikan hati kita seperti itu sebelum memulai takbiratul ihram atau bahkan sebelum mengucapkan niat ketika hendak sholat.

 

 

Sesungguhnya sholat yang khusyu dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana firman Alloh di dalam Al Qur’an Surat Al-ankabut : 45. Lalu Alloh juga menegaskan di ayat yang sama,”Sesungguhnya  mengingat Alloh ( sholat ) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain dan Alloh mengetahui apa saja yang kamu kerjakan”

 

 

”Sesungguhnya sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikannya maka ia menegakkan agama, siapa yang melalaikannya maka ia sedang meruntuhkan agama” ( Hadits Riwayat Baihaqqi )

 

 

Ahh.. saya cuma mau sekedar sharing saja, sama sekali tak bermaksud menggurui, agar saya juga selalu berusaha menjadikan sholat saya sendiri menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu, baik dalam hal ketepatan waktunya juga kualitas maknawinya. Amiin. Semoga bermanfaat ya.

 

 

Wallohu ’alam bissawab

 

 

 

Epri Tsaqib

http://epriabdurrahman.multiply.com

 


Blog EntryBelajar Mencintai Mar 1, '07 10:00 PM
for everyone

 
Mari Kita Belajar Mencintai


Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang yang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat.

Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka.

Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun Negara baru itu: “Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai.”

Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pecinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan.

Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara. Bukan. Sama sekali bukan tentang itu.

Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyatan. Dan dengan begitu, cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan.

Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana.

Rasulullah saw bersabda: Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun.”

Ini menjelasakan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetic, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita.

Begitu juga cinta. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai.

Sumber : Anis Matta, Lc Kolom Thumuhat, Tarbawi, Edisi 148 Th. 8, Muharram 1428H

www.portalinfaq.org
www.portalinfaq.org.uk
http://pondokyatim.multiply.com

**keterangan foto : Hasil karya anak yatim Pondok Yatim Baitussalam Jogjakarta
 

Blog EntryBelajar Dari Keledai Dec 4, '06 4:19 AM
for everyone
Sahabat-sahabat ini ada kisah menarik, semoga menjadi inspirasi buat kita, selamat menikmati, tetap semangat ya! :)

--------------------------------------------------

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.


Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.


Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.


Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.


Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !


Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.


Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !


Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!


Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :


   1. Bebaskan dirimu dari kebencian
   2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
   3. Hiduplah sederhana
   4. Berilah lebih banyak
   5. Berharaplah lebih sedikit
   6. Tersenyumlah


Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama.


GUNCANGKANLAH!!


"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !"


Sumber : Tidak diketahui


ReviewReviewReviewReviewJadilah karang SahabatOct 2, '06 4:11 AM
for everyone
Category:Other
Menjadi karanglah, meski tidak mudah
Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang.

ia akan kukuh halangi deru ombak
yang kuat menerpa tanpa kenal lelah.

ia akan melawan bayu yang keras
menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan.

ia akan menahan hempas badai yang datang
menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya.

ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.
ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun,
berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan

Menjadi karanglah, meski tidak mudah

: *Beng beng


Di dalam Al-Qur’an kata infaq disebut tidak kurang 80 kali dalam berbagai surah dan bentuk derivasinya. Infaq lebih bersifat pemberian materi untuk kepentingan kebaikan bila ditinjau dari sudut terminologi Islam. Ini tentu untuk lebih memudahkan kita membedakannya dengan shodaqoh atau sedekah yang berkonotasi mirip namun memiliki cakupan lebih luas daripada infaq yakni dapat juga berupa immateri seperti memberikan senyum tulus kepada saudara kita dan berbagai kebaikan immateri lainnya.

Di tengah gamblangnya kenyataan bahwa potensi dana zakat sebagai ibadah wajib atau fardhu ’ain bagi setiap muslim di negeri ini ternyata hanya terhimpun kurang dari 8% pada tahun 2005 dari potensi yang semestinya dapat diperoleh sebesar 7 Trlilyun. (Angka ini adalah angka yang terkecil yang penulis ambil dari berbagai penelitian tentang potensi dana zakat yang dilakukan banyak pihak yang mestinya dapat terhimpun dari masyarakat muslim Indonesia yang merupakan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk tak kurang dari 220 juta jiwa). Maka infaq sesungguhnya adalah ruang besar yang juga Alloh ciptakan untuk membuka banyak pintu kebaikan bagi diri dan ummat Islam. Fenomena begitu besarnya rasa gotong-royong masyarakat kita ketika terjadi banyak terjadi bencana alam dinegri ini misalnya adalah contoh sederhana untuk membuktikan bahwa boleh jadi kecilnya perolehan dana zakat di tanah air adalah karena faktor pemahaman yang minim terhadap kewajiban berzakat di tengah masyarakat muslim kita.

Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap tatowwu’ atau melebihkan atau menambah kebaikan yang kita lakukan sebagai bentuk bakti kita kepada Alloh Sang Pencipta. Ini berlaku untuk semua jenis ibadah seperti misalnya ibadah sholat. Selain yang wajib yakni sholat 5 waktu, seorang muslim juga sangat dianjurkan melakukan sholat-sholat sunnah seperti sholat sunnah nawafil, qiyamullail atau sholat tahajjud, sholat dhuha dan lain-lain. Dalam konteks harta tentu yang dimaksud disini adalah infaq, setelah seorang muslim menunaikan kewajiban fardhu nya yakni mengeluarkan zakatnya kepada baitulmaal atau lembaga zakat yang ada. Melakukan tambahan kebaikan sesungguhnya juga adalah tolak ukur bagi kualitas keberimanan seorang muslim itu sendiri dihadapan Alloh dan manusia.

Tak pelak lagi infaq sesungguhnya adalah ruang besar yang juga Alloh ciptakan untuk membuka banyak pintu kebaikan bagi diri dan ummat Islam. Karakteristik pemanfaatan dan alokasi dari infaq juga jauh lebih luas bila dibandingkan zakat yang jelas harus disalurkan kepada 8 asnaf atau golongan yang digariskan Alloh didalam QS At-Taubah: 60. Ruang besar yang dimaksud salah satunya adalah dari sisi pemaksimalan pemberdayaan umat islam ditanah air yang dalam hal ini dilakukan oleh lembaga-lembaga amil yang ada. Kalau zakat fatwanya masih lebih ditekankan untuk segera dioptimalkan penyalurannya untuk dihabiskan kepada kepada fakir dan miskin yang jumlahnya begitu besar di negeri kita, maka dana infaq memungkinkan para ’amilin (amil zakat) untuk membuat program-program pemberdayaan yang lebih produktif dan diharapkan memberi solusi yang tepat, seperti pemberdayaan bidang UKM (usaha kecil dan menengah). Sebagaimana sebaiknya kita memberikan kail daripada memberi ikan maka seperti itulah gambaran pemanfaatan dana infaq sebaiknya kepada kaum dhuafa di negara kita. Belakangan ini kita sering mendengar pola pendekatan pemanfaatan dana infaq seperti ini dengan istilah Infaq Produktif.

Sebagai ilustrasi kita bisa lihat, seandainya masyarakat kelas menengah di Indonesia ini, katakanlah 1% saja dari seluruh jumlah penduduk berinfaq dengan menyisihkan gajinya sebesar Rp 50.000,- setiap bulannya, maka akan terkumpul sejumlah 100 milyar rupiah. Sebuah angka yang cukup besar yang untuk bisa kita kembangkan pada sektor UKM yang biasanya angka pertumbuhan rata-ratanya mampu menyerap setidaknya 2 atau 3 orang tenaga kerja baru per unit usaha dengan jumlah pinjaman sebesar hanya 1 sampai 3 juta rupiah berdasarkan pengalaman penyaluran dana di BMT di Jakarta selama ini.

Itu artinya bila dipukul rata saja, pinjaman usaha sejumlah 1 juta rupiah per orang dari 100 milyar, berarti ada 100.000 unit usaha kecil baru yang dikembangkan setiap bulannya di Indonesia hanya dari dana infaq dan katakalah bila rasio keberhasilannya 80% saja, itu adalah sebuah angka yang cukup menjajikan sebenarnya bagi solusi persoalan kemiskinan kita selama ini di tanah air kita. Jelas sudah terlihat sekarang bahwa bila kita membudayakan diri berinfaq maka sesungguhnya ia bukan hanya sebuah bentuk kesholehan pribadi. Namun juga kesholehan sosial bila dikelola dengan benar dan ada skenario besar yang sungguh-sunguh ingin menjadikannya sebagai sebuah gerakan sosial yang tertata rapi bukan hanya pada sektor pengumpulannya, namun juga kontrol penyalurannya nanti di lapangan.

Wallohu ’alam bishshawab

*Tulisan ini dimuat di Media Indonesia Jum’at 29 September 2006 dengan judul ”Infaq dan kesalehan sosial”

**Penulis : Epri Abdurrahman Rafi' Praktisi 'Amil Zakat Indonesia www.portalinfaq.org

http://www.portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=406


ReviewReviewReviewReviewMengingat keabadianSep 28, '06 5:32 AM
for everyone
Category:Other
Sehari sebelum puasa, istri saya baru cerita kalau dia ingin banget ziarah ke makam ibundanya almarhumah
di Jeruk Purut Cipete Jakarta Selatan. Semula saya agak ragu, karena meskipun baik waktu ziarah dihari itu takut disalah pahami sama orang yg gak setuju. Akhirnya saya putuskan tetep nganter istri dan kedua anak saya yang ganteng ( kayak bapaknya --nyengir--red ) untuk pergi ziarah. Saya bilang kita lurusin niat aja, insyaAlloh kita ziarah karena Alloh kebetulan aja waktunya sehari sebelum ramadhan.

Apalagi kami juga mau sekalian ngenalin anak2 kami untuk kenal kuburan. Jangan mengira saya ini semacam dukun ya, maksud saya dari kecil biar mereka tahu bahwa berziarah ke makam itu baik sekali untuk sering2 mengingat mati ( yg mestinya emang harus lebih sering diinget dibanding mengingat hidup ). Mengingatkan kita bahwa hidup kita memang cuma sebentar dan segera cepat atau lambat akan menyusul yang sudah duluan.

Sebagaimana sdh dikira, jalanan hari itu macet total menjelang kuburan, mau masuk aja susah --->kayak mau ngambil gaji aja :) Tapi akhirnya kami sampai juga di makam nenek anak2 saya. Makam ibu kedua saya ini saya lihat paling sederhana diantara makam2 lainnya. Lalu kami pun berdoa bersama, menundukkan kepala, merintih padaNYA agar ibunda-ayahanda kami , dan kakak saya almarhum diberi tempat terbaik di alam quburnya. Semoga bacaan Qur'an mereka jadi syafaat. Dan kami yang hidup makin sering menangis dan bersyukur tuk mendekat padaNYA.

Sore itu kami bahagia sekali, pulangnya semburat senja ikut mengantar kami pulang dan matahari yg sangat jingga itu juga tersenyum manis pada kami. Dalam hati saya tambah do'a saya "Ya Alloh jadikan kami sering mengingat alam keabadian kami yang sebenarnya. Dan jadikan dunia ini remeh dihadapan kami ya Robbi. dan Jangan biarkan malam kami berlalu tanpa bersujud luruh dihadapanMU." Amin3X.

Lagi-lagi saya lihat matahari yg sore itu sangat jingga warnanya tersenyum manis pada kami. :)

Epri Tsaqib & Keluarga 30 Sya'ban 1427 H.


Category:Other
**Semoga bermanfaat buat temen-temen

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang
dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil
segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil
segelas air.Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu
diaduknya perlahan.

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke
tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan
dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampainya disana,
Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dgn
sepotong kayu
ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk
air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar", sahut si pemuda.

"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.

"Tidak" sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan
baik-baik.Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit
ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan
memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan
dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan
kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan;
lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap kepahitan itu."

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : "Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung
segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."

Karena Hidup adalah sebuah pilihan. Mampukah kita jalani kehidupan
dengan baik sampai ajal kita menjelang?
Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.

Sumber : Anonimous


Blog EntryMet Bobo SayangSep 15, '06 11:13 AM
for everyone
Anak-anak adalah karunia Alloh yang luar biasa bagi saya. Betapa sangat indah
karunia yang Alloh titipkan itu saya rasakan. Meski anak-anak saya ini laki-laki
dua-duanya dan pastinya sering bikin runyam suasana rumah kami. Tapi pasti
ada saja saat-saat istimewa bersama mereka.

Salah satunya adalah saat-saat saya bisa pulang cepat ke rumah dan menemani
mereka bermain bersama, bercengkrama, dan main apa saja. Biasanya mereka
berdua paling senang digendong bersamaan oleh saya. 1 dibelakang dan 1 lagi
didepan. Setelah itu main kereta-keretaan sambil nyanyi bersama lagu kereta api.

Kalau sudah mau bobo, mereka saya biasakan cuci kaki dulu, lalu berdoa bersama
sebelum berangkat bobo. Biasanya saya tanya dulu ke anak Sulung saya, "Tsaqib
sayang abi (baca ayah) gak?" pertanyaan yang sama juga kepada adiknya Yusuf
dan merekapun menjawab,"Chayang..." Tak lupa saya cium pipi dan kening mereka
satu persatu. Buat saya saat seperti ini indah sekali. Meski mungkin kelihatannya
sederhana saja. Apalagi bila saya sedang berada diluar kota, wah bisa ter-melow-
melow deh inget sama buah hati saya dirumah.

Dengan cara begitu saya berharap anak-anak saya terbiasa mengungkapkan
perasaan tanda sayangnya kepada orang-orang disekitarnya. Setidaknya kepada
kami kedua orang tuanya. Semoga.


Epri Tsaqib 15 September 2006
Ayah juga sayang kalian nak...selalu...:)



Blog EntryBEGITU BERHARGA?Aug 31, '06 12:46 AM
for everyone


Seringkali saya suka heran kalau lagi di jalan raya. Sepertinya waktu terasa begitu
berharga sekali. Apalagi di Jakarta  wuihhhh....paling-paling deh. Kalau tidak
percaya lihat saja sendiri, hampir setiap kita pasti pernah mengalaminya.


Teman saya pernah cerita ketika dia bawa mobil, kalau di belokan perempatan
meskipun dia sudah kasih lampu sen tanda belok dari jarak jauh, tetap saja ada
motor yang nyelip dari arah kiri mendahului. Wah padahal kan bahaya banget.
Seandainya dia pas lagi tidak lihat gimana? Pasti lecet kan? trus kalau sudah
lecet dimana-mana pasti yang salah bukannya motor tapi pasti mobilnya. Dan
itu sudah jadi kesepakatan tidak terlulis atau hukum di jalan raya versi Indonesia.
kalau motor nabrak orang pasti yang salah juga motor.


Biar kita ngotot kayak gimana bahwa cara setir mobil kita sudah benar tetap
aja motor yang menang. Apalagi kalau pengendaranya tipikal tidak suka pakai
logika alias mau menang sendiri. ehmmm...siap-siap saja urusan jadi ruwet
dan panjang.


Pernah ketika pergi bareng istri saya, dia sampai jantungan karena tiba-tiba
di Klakson sebegitu kencengnya sama mobil dibelakang kami. Padahal
semua orang juga tahu kalau kondisi lagi macet dan didepan saya persis
juga semua kendaraan sedang dalam posisi diam ditempat. Ck-ck-ck....
paling saya geleng-geleng  kepala sambil berujar..."Biarin aja mi, mungkin
dia kecilnya kurang bahagia kali, jadi sudah gede masih main tin-tin-an "


Begitulah...waktu memang jadi terasa begitu berharganya kalau lagi di Jalan
raya, semua mau serba cepet dan ngebut dan tidak  mau mengalah. Resiko
Kecelakaan yang akan ditanggung seolah sudah tak pernah terpikirkan lagi.
Padahal giliran kerja malah suka lambat-lambat, dead line molor terus?
ha-ha-ha....budaya kota besar kali ya??


Epri Tsaqib 31/8/06

sekarang motor juga ada yang dipasangin klakson yang suaranya kenceng
banget plus sember, kayaknya dibuat sengaja untuk ngagetin orang deh?
biasanya anak-anak muda yang doyan ngebut yang pakai.

Wallohu 'alam bishsawab





Blog EntryGENERASI PENCIPTA SUMBERDAYAJul 31, '06 10:51 PM
for everyone

GENERASI PENCIPTA SUMBERDAYA



Jembatan apa yang dibutuhkan, diantara cita-cita yang menjulang dan kemampuan yang pas-pasan?

Ada perasaan sia-sia yang menjalar perlahan di hati seorang dosen. Malam itu semua usahanya meyakinkan para mahasiswanya tentang keunggulan ekonomi islam gugur berkeping-keping, hanya karena sebuah pertanyaan sederhana seorang mahasiswa.

Rasanya semua energi intelektualnya sudah dikerahkan. Enam belas kali pertemuan dalam satu semester. Menurut dosen yang juga aktivis itu, jumlah tersebut cukup guna membangun keyakinan kokoh di benak para mahasiswa tentang ”keunggulan sistem ekonomi islam” di atas semua sistem lainnya.

Ia meyakinkan mereka dengan membuat perbandingan ideologi dan sistem yang sangat rasional-objektif antara islam dengan kapitalis dan komunis; perbandingan bisnis antara konsep bank tanpa riba dan bank konvensional; analisa komprehensif tentang kegagalan pembangunan di dunia islam; syarat-syarat yang diperlukan demi meningkatkan kesejahteraan ummat dan memajukan perekonomian mereka.

Begitu seterusnya. Mahasiswa-mahasiswanya antusias. Sampai pertanyaan sederhana itu muncul. "Apakah ada sebuah negara yang telah menerapkan sistem ekonomi islam, dan mencapai tingkat kemakmuran yang dijanjikan sistem itu seperti yang bapak ceritakan, sehingga kita dapat menjadikannya model pengembangan ekonomi bangsa kita ke depan?" (tanya mahasiswa itu enteng, dan sedikit lugu).

Sederhana memang. Tapi itulah "lubang besar" yang menganga dalam cara kita mengkomunikasikan islam kepada masyarakat. Sementara kita menjelaskan keunggulan ideologi dan sistem yang abstrak, mereka mengharapkan contoh aplikasi yang sukses dalam kehidupan nyata. Sementara kita membanggakan keunggulan di dunia maya spiritual, tapi mereka hanya terpesona kepada yang unggul di dunia empiris. Sementara kita menjelaskan kehebatan Islam di masa lalu, mereka menyaksikan keterpurukan kita saat ini. Sementara kita menjelaskan kebenaran-kebenaran islam, mereka justeru menantikan kekuatan-kekuatan kaum muslimin. Sementara kita menjelaskan teori, mereka memahami teori lebih baik melalui contoh kasus.


Cermin realitas

Kebanyakan orang belajar secara visual, tapi kita berkomunikasi secara abstrak. Ini hanya contoh kecil, sangat sederhana, tapi memadai untuk menjelaskan mengapa gerakan da'wah belum mampu menembus pusaran logika massa, apalagi melakukan penetrasi pada jaringan-jaringan pemikiran, sosial dan politik untuk kemudian mengubah, memobilisasi dan mengendalikan mereka.

Di tingkat opini publik, islam dan gerakan da'wah dengan mudah "diisolasi" tanpa pembelaan spontanitas dari masyarakat. Masyarakat juga belum begitu percaya dengan kemampuan gerakan da'wah beserta para pemimpinnya untuk mengelola negara. Secara keseluruhannya, Islam dan gerakan da'wah belum memegang peran-peran kunci dalam pembentukan kesadaran publik. Padahal itu semua merupakan kondisi-kondisi pendahuluan yang mutlak ada dalam perjalanan kita menuju kekuasaan.

Rendahnya tingkat penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita sebenarnya merupakan realitas-realitas yang berakar pada cara kita berpikir. Tidak ada realitas kita yang tidak berakar pada pikiran kita. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan seluruh potret realitas kita secara apa adanya. Pikiran adalah ruang kemungkinan (space of possibility), dan realitas adalah ruang tindakan yang telah jadi nyata (space of action). Seluruh realitas kita hanya bergerak pada ruang kemungkinan itu. Makin besar ruang kemungkinannya, makin besar ruang realitasnya. Bagaimana kita berpikir, begitulah kita akan bertindak.

Jadi jauh sebelum sebuah realitas tercipta di alam kenyataan, ia terlebih dulu tercipta di alam pikiran kita. Sebaliknya, apa yang tidak pernah kita pikirkan tidak akan pernah jadi realitas di masa mendatang. Maka realitas-realitas kita hari ini sesungguhnya merupakan buah dari benih-benih pikiran yang telah kita tanam bertahun-tahun yang lalu. Dan seterusnya. Realitas-realitas kita di masa mendatang adalah buah dari benih-benih pikiran yang kita taman hari ini.

Konflik dengan penguasa, misalnya. Ini realitas yang mewarnai pola hubungan antara gerakan da'wah dengan penguasa selama ini. Realitas ini berakar pada persepsi gerakan da'wah tentang penguasa sebagai kumpulan para thoghut (kekuasaan yang menolak hukum Alloh). Begitu persepsi ini menguasai pikiran kita, sense of war langsung menyalakan alarm perang ketika kita berhadapan dengan penguasa.

Misalnya lagi, fenomena esklusivitas para aktivis di tengah masyarakat. Fenomena ini berakar pada persepsi, bahwa masyarakat kita saat ini hidup dalam kubangan jahiliyah modern. Begitu seseorang berubah menjadi aktivis da'wah, segera saja ia merasakan superioritas spiritual dan moral, dan menemukan tembok pemisah antara dirinya dengan masyarakat.

Ambil contoh lain lagi. Dana. Keterbatasan dana adalah ironi besar yang membatasi ruang gerak da'wah kita. Uang adalah sarana pendukung yang tidak pernah mengisi atau bahkan tak punya tempat dalam ruang pikiran kita selama ini. Kalau toh kita memikirkannya, itu hanya sambil lalu. Pikiran kita selalu terfokus pada bagaimana mensiasati keterbatasan. Bukan pada bagaimana menciptakan kemelimpahan. Karena yang kita pikirkan adalah bagaimana mensiasati keterbatasan, maka selamanya keterbatasan menjadi realitas kita. Kemelimpahan tidak pernah jadi nyata, karena kita memang tidak memikirkannya.


Menggeser pusat perhatian

Sekarang sepakatlah kita, bahwa tindakan-tindakan kita muncul sebagai buah dari benih pikiran-pikiran kita. Realitas da'wah juga begitu. Pikiran-pikiran yang berkembang di lingkungan para du'aat lah yang menciptakannya. Jadi pikiran adalah pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan-tindakan dan menciptakan realitas-realitas kita.

Jika sistem kendali tindakan dan realitas kita ada pada pikiran-pikiran kita, hanya ada satu jalan memperbaiki realitas-realitas kita, yaitu mengubah pikiran-pikiran kita. Sudah saatnya gerakan da'wah memikirkan kembali caranya berpikir, memikirkan kembali apa yang selama kita pikirkan dan mengapa kita memikirkannya serta mengapa kita memikirkannya dengan cara begitu.

Generasi pertama pertama para pemikir da'wah, seperti: Al-Banna, Al-Maududi, Sayyid Quthub dan lainnya, memfokuskan perhatian pada pembangunan ideologi. Generasi kedua, seperti Muhammad Al-Gazali, Yusuf Al-Qardhawi, Fathi Yakan, dan lainnya memfokuskan perhatiannya pada pembangunan kerangka pemikiran pergerakan.

Ketika gerakan da'wah memasuki era keterbukaan, bermetamorfosis menjadi institusi terbuka, bermain di domain publik, memasuki pusat-pusat kekuasaan, persoalan terbesar kita adalah sumberdaya. Inilah persoalan yang dihadapi gerakan-gerakan da'wah di berbagai negara Islam seperti Sudan, Yaman, Aljazair, Turki, Mesir, Indonesia dan lainnya. Di semua kawasan ini gerakan da'wah mengalami persoalan tersebut secara fundamental: beban kerja yang muncul akibat perluasan wilayah aksi da'wah tidak seimbang dengan sumberdaya yang dimiliki gerakan-gerakan da'wah tersebut.

Animo besar masyarakat terhadap islam akibat kegagalan pembangunan di akhir dekade 80-an memang pada mulanya menghasilkan kemenangan-kemenangan politik di awal 90-an, seperti FIS di Aljazair atau Refah di Turki. Tapi itu tidak lama. Situasi segera berubah. Tantangan-tantangan yang menghadang kita melampaui sumberdaya yang kita miliki.

Dengan menggunakan cermin realitas seperti diatas, persoalan sumberdaya ini muncul karena pusat perhatian pikiran kita belum bergeser dari tema besar generasi pertama dan generasi kedua para pemikir da'wah. Kita masih bicara ideologi dan belum bicara sumberdaya. Kita masih bicara sistem pemerintahan Islam dan belum bicara kompetensi kepemimpinan umat. Kita masih bicara slogan "Islam adalah solusi" dan belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa. Kita masih bicara kegagalan musuh, dan belum bicara kesuksesan-kesuksesan kita. Kita masih bicara ghazwul fikri (perang pemikiran), dan belum bicara strategi kebudayaan. Kita masih bicara konspirasi asing, dan belum bicara sistem pertahanan da'wah. Kita masih bicara fiqhul ikhtilaf, dan belum bicara manajemen organisasi. Kita masih bicara sabar dalam mensiasati keterbatasan dana, dan belum bicara cara menciptakan kemelimpahan dana. Kita masih bicara apa yang kita inginkan, dan belum bicara sumberdaya yang diperlukan untuk mencapainya.

Selama pusat perhatian pikiran kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumberdaya-sumberdaya, selama itu kita akan mengalami kemunduran dan keterpurukan. Ini hanya konsekuensi ketidakseimbangan antara beban dan daya pikul. Kita akan tampak tua dan lelah, berjalan tertatih-tatih memikul beban obsesi khilafah yang terasa semakin jauh.

Para pendiri dan ideolog gerakan da'wah telah meletakkan dasar-dasar ideologi yang kokoh bagi kebangkitan ummat. Mereka merampungkan tugas mereka dengan sempurna. Para pemikir pergerakan berikutnya juga telah membangun kerangka pemikiran pergerakan bagi pertumbuhan gerakan da'wah menuju kematangan. Mereka juga telah menunaikan tugas mereka dengan sempurna. Kini tiba saatnya bagi generasi ketiga -generasi kita untuk membawa bendera, menunaikan tugas sejarah mereka: generasi pencipta sumberdaya. Biarlah di tangan mereka kebenaran menjadi nyata di muka bumi karena menyatu dengan kekuatan.

Wallahu'alam

Anis Matta
2006-07-31

http://www.portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=375