
Ya Tuhan, Tolong hapus kata reshuffle di kepala pak Presiden!
amin...
Epri Tsaqib, 2007
  bulan bertanya kepada punduk berhati sutra yang lama merinduinya
"semudah itukah menikah?" tanyanya sambil meringis pada waktu yang selalu mendesak
tak ada yang mudah dalam lorong detak seperti tak ada yang sulit ketika dijalani
"bagaimana bila hati kami akhirnya retak?"
riwayat hidupmu berarti bertambah status berubah dan kerikil pernah kau jejak
lalu apa yang salah dengan goresan di tapaktapak perjalanan?
boleh jadi pelangi akan segera merengkuhmu dari resah dan kalian menarikan kidung sajaksajak terharum hingga detik penghabisan menguap
Epri Tsaqib, 2007   Seperti Apa?
seperti apa cinta lelaki pada perempuan? : tiba tiba saja ia punya kebun bunga dalam hatinya
seperti apa cinta perempuan pada lelaki? : tiba tiba saja hatinya meluas tanpa batas
oleh : malaikat kecil
----------------------------------
Seperti Apa?
seperti apa cinta anak pada ibunya? : tibatiba hatinya menjadi senja
seperti apa cinta ibu pada anaknya? : tibatiba seluruh hatinya menjelma tetes airmata
oleh : Epri Tsaqib, 2007
  apa lagi yang lebih indah dari hari ini?
berwudhu di gemericik rimbun alam menyatu denganku sujud padaMU di bebatu
keringat metropolitan yang berkarat meleleh dalam deras tercurah
Epri Tsaqib, Curug Cigamea Bogor 2000*
*Foto dari navigasi,net
 
hai gemericik, apa kabarmu siang ini?
sekilas hidupmu monoton sekali
tapi tahukah kau sobat? birama indahmu tak pernah lelah membekaskan damai di kusam hati kami
Epri Tsaqib, 2000
*photo dari navigasi.net
  Selamat Pagi, Buaya
oleh : Feby Indirani Selamat pagi Buaya, sarapan apa? Besar betul mulutmu menganga, Siap siaga menelan mangsa Glek. Glek. Glek. Ah, Kau masih lapar juga? Memang berapa banyak lubang limbahmu? Tak kan habis dunia biar kau gigiti semua Hasrat selalu lebih dahaga dari api membara Selamat pagi Buaya, Ayolah, sarapan roti di rumah saja feby, (sebetulnya penyayang binatang, asal jangan keterlaluan kemaruknya)
-------------------------
Selamat pagi juga Pak Aya,
apa menu kita hari ini?
hmm...aku lapar sekali selalu saja begini
Oiya, aku boleh minta dessert yang spesial ya?
oleh : Epri Tsaqib, 2007
  sobat, tidakkah kau letih menyusuri kelokan belukar kata
kemarilah!
ilalang dan gemintang mengajak kita menyanyikan gelisah yang menyusur dari kawah ke temali uap panas hingga percikan cibeureum sejak lama
ayo-ayo berdendanglah! sejenak, kita benamkan lukaluka
Epri Tsaqib Gunung Gede Jawa Barat 2006
*Foto dari Ari37.tripod.com  
biarkan aku terjaga tanpa pagut bayangmu
biarlah ku tulis setiap denting gerimis
: tanpamu
Epri Tsaqib, 1992
  Ini laporan pandangan mata acara 1 Dekade FLP yang dituliskan Tabloid Parle, selamat menikmati :)
---------------------------------------------------------------------------------------
SEPULUH tahun Forum Lingkar Pena (FLP) diperingati dan dirayakan di Perpustakaan Diknas yang dikenal dengan nama Library@Senayan. Tidak hanya berlangsung satu dua jam, melainkan sejak pukul 10 pagi hingga pukul 10 malam, dua belas jam. Membuat hari Sabtu 24 Februari 2007 itu begitu hangat di ruang baca perpustakaan. Luar biasa! Apa yang tak luar biasa dari FLP? Dua di antara penggagasnya, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, adalah kakak-beradik yang memiliki etos kerja dengan integritas tinggi. Keduanya berprofesi pengarang dengan sejumlah besar buku yang sudah terbit dan dibaca banyak orang. Tak perlu diperbincangkan di sini jika mereka hanya melulu memberdayakan karya-karya sendiri. Justru kenyataannya, FLP telah melahirkan banyak pengarang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga para ibu rumah tangga yang seolah-olah berkembang menjadi kreatif begitu bersentuhan dengan dunia menulis. Nama tempat ngumpul mereka dinamakan Rumah Cahaya, sesuai dengan hasilnya yang mencerahkan.
Acara ulang tahun yang dirancang serius ini melibatkan banyak sastrawan, baik keluarga internal Forum Lingkar Pena maupun sejumlah pembicara eksternal. Mereka antara lain Melanie Budianta, Maman S. Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Kurnia Effendi, Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah, Yudhis, Agus R. Sasrjono, Joni Ariadinata, dan Anya Rompas.
Untuk sebuah organisasi, mencapai usia 10 tahun merupakan perjuangan tersendiri. Dan FLP tidak hanya tersebar di sejumlah kota Indonesia, melainkan juga merambah ke mancanegara, seperti Mesir dan Hongkong. Hebatnya, di setiap Cabang FLP, ada karya yang diterbitkan dalam bentuk buku. Kenyataan itu menyimpulkan bahwa pertumbuhan pengarang melalui wadah itu cukup menggembirakan. Mereka bukan sekadar penggemar dan pembaca sastra, akan tetapi para pekerja sastra. Bahkan, sebagian di antaranya mulai terjun ke penulisan skenario. Salah satu contohnya adalah serial OB (Office Boy) yang ditayangkan di stasiun RCTI, naskah skripnya ditulis oleh Fachri Asiza dari FLP.
Acara yang cukup padat namun berjalan dalam suasana riang itu cukup mendapat sambutan. Dibuka dengan pembacaan puisi oleh Komunitas Puisi FLP yang dipimpin oleh Epri Tsaqib, perhelatan pun dimulai. Dua pembaca puisi wanita dari FLP Tangerang cukup memukau dengan penampilan duetnya. Ice breaking itu untuk mencairkan suasana sebelum sambutan dari Irfan Hidayatullah sebagai Presiden Forum Lingkar Pena periode 2007 yang menyampaikan bahwa dalam usianya yang ke 10, FLP sebagai komunitas sastra dengan nuansa religius populer dapat bersinergi dengan pelbagai pihak. FLP hendaknya dapat mewakili margin kanan (karena ada margin kiri? – Red).
Disambung dengan diskusi sastra yang mengangkat tema “Puisi Populer dan Mempopulerkan Puisi“, dengan pembicara Anya Rompas dan Kurnia Effendi. Dalam perbincangan ini kedua pemakalah menyampaikan hal yang senada bahwa kata pop terkait dengan populis, digemari banyak orang, sedangkan “lawan” dari mazhab itu adalah puisi klasik yang adiluhung. Namun demikian gerakan seni pop digagas sangat serius pada awalnya oleh sekelompok konseptor yang hendak mengusik kemapanan para seniman menara gading sebelumnya.
Seusai jeda makan siang, acara bergulir kembali. FLP memperkenalkan 5 orang penulisu, satu di antaranya novelis kecil. Kemudian dibahas juga 5 buah buku baru yang diluncurkan pada hari itu. Satu di antaranya karya pengarang best seller Habiburrachman (penulis “Ayat-ayat Cinta“) dengan judul buku “Ketika Cinta Bertasbih“. Sebagai pemandu acara, Pipiet Senja dan Fachri Asiza. Pada sesi peluncuran 5 buku lainnya, pembahasan dilakukan oleh Yudhis, Joni Ariadinata, dan Agus Sarjono. Selepas maghrib digelar pertunjukan teater mengangkat cerita “Jaring-jaring Merah“ karya Asma Nadia.
Sebagai puncak acara, diskusi sastra “Forum Lingkar Pena dalam Sastra Indonesia“ yang menampilkan Melanie Budianta, Maman S. Mahayana, dan Ahmadun Yosi Herfanda. Maman dalam kesempatan itu mencoba menegaskan, bahwa kehadiran Forum Lingkar Pena dalam sastra Indonesia leksana menjawab harapan sejumlah besar kaum remaja Indonesia akan kebutuhan belajar menulis. Pada kesempatan lain, penyair Taufiq Ismail pernah menyebut Forum Lingkar Pena sebagai “hadiah Tuhan untuk Indonesia“. Memang, pena para penulis di FLP telah melampaui lingkaran internalnya, merambah ke bidang kreatif yang lebih luas. Sekali lagi, selamat ulang tahun! (KE/Parle/07)
  di celahcelah rintik hujan aku termangu melihat bayangmu di lintasan temaram menatapku dalam embun airmata
mengapa begitu sulit kau tanggalkan aliran jejakjejak lama yang menggenang di palung ruang hatimu?
tidakkah cukup sudah setelah kau tinggalkan bongkahan lubang besar nyeri di dadaku dengan kepergianmu yang tandas?
Epri Tsaqib 1992* hehehe...sebenarnya masih ada lanjutannya, *jaman dulu banget ya gaya puisinya :)
 
dalam diam aku meraba alurMU mencacah rentetan silih airmata
dalam senyap aku menghitung caraMU menyapih tungkai kaki kami
dalam gumam ku cerna singkap tabirMU
: ini titian undakan berikut
Epri Tsaqib, 2007
  Serasa tak pernah henti, bencana terus terjadi di negri ini. Kita semua berdoa Semoga kita bisa mendapat banyak pelajaran dari semua peristiwa ini agar menjadi lebih bijak dan semakin peduli dengan orang-orang terdekat dan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah itu. Saya ingin mengajak kita semua berbagi, membantu mereka, silahkan klik link di bawah ini ya. Terimakasih http://www.portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=50970 ORANG TEWAS, RATUSAN LUKA-LUKA, LISTRIK PADAM PADANG -- Akibat gempa yang melanda sejumlah kota di Sumatra Barat (Sumbar), dilaporkan sedikitnya 70 warga meninggal. Ratusan warga lainnya luka berat dan ringan karena tertimpa material bangunan yang roboh diguncang gempa beruntun berkekuatan 5,5-6,0 skala Richter (SR), mulai sekitar pukul 10.49 WIB - Selasa (6/3/2007). Gempa itu membuat panik warga. Mereka yang sedang berada di gedung atau rumah, berlarian ke jalan-jalan. Di Padang, ribuan murid sekolah berhamburan ke luar ruangan menuju lapangan terbuka. Sementara, di jalan-jalan utama Padang, warga saling berebut memacu kendaraannya menuju tempat yang lebih tinggi, seperti Kampus Universitas Andalas dan Indarung. Namun, setelah polisi dan petugas kebakaran mengabarkan bahwa tsunami tak akan terjadi karena pusat gempa di daratan, warga kembali tenang. Gempa juga menyebabkan saluran telepon terganggu dan listrik padam hampir di semua kota di Sumbar. Banyak rumah, gedung perkantoran, dan gedung sekolah yang ambruk tak kuat menahan guncangan gempa. Sejumlah pemilik toko memilih tutup dan mengemasi barang-barang dagangan mereka. Di Bukittinggi, Pasar Putih terbakar, beberapa saat setelah gempa susulan sekitar pukul 13.00 WIB. Belum ada laporan korban jiwa. Diduga, kebarakan karena kompor minyak tanah yang sedang menyala terguling digoyang gempa. Beberapa ruas jalan retak-retak, termasuk di penghubung Bukittinggi-Ngarai Sianok. Kebanyakan warga hingga pukul 14.30 WIB berada di luar rumah dan pasien-pasien rumah sakit diungsikan ke luar ruangan. ''Kini kami sedang bangun tenda,'' kata Reza, staf Pemkot Solok. Gempa dirasakan hampir merata pada sejumlah kota di Sumbar. Di antaranya Padang, Solok, Bukittinggi, Pariaman, Padangpanjang, Bukittingi, Agam, 50 Kota, Payakumbuh, Pasaman, dan Pesisir Selatan. Sejumlah kota tetangga, seperti: Riau, Jambi, dan Sibolga, merasakan getaran gempa itu. Bahkan, goyangan gempa tektonik karena pergeseran kulit bumi ini juga dirasakan warga Batam, Singapura, dan Malaysia. Menurut Sekdaprov Sumbar, Yohannes Dahlan, data sementara korban meninggal di Kab Solok sebanyak 19 orang, Kota Padang Panjang 10 orang, Kota Solok 14 orang, Kab Tanah Datar 16 orang, Bukittinggi 8 orang, Payakumbuh satu orang, dan Pariaman satu orang. Korban luka berat yang sudah diketahui sebanyak 46 orang. Jumlah korban terbanyak berada di Kab Solok dengan 35 orang. Kemudian, 11 orang di Kota Payakumbuh. ''Jumlah korban diperkirakan terus bertambah karena upaya evakuasi masih terus dilakukan,'' kata Yohannes di Padang, Selasa (6/3/2007). Selain telah mendistribusikan bantuan beras, tenda, dan tenaga medis, menurut Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, Pemprov Sumbar juga telah mengirimkan alat berat untuk mengatasi longsor yang terjadi di jalan menuju Solok dan Lembah Anai. Penyebab gempa di Sumbar, menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, akibat aktivitas sesar geser Semangko atau sesar Sumatra yang berarah barat laut-tenggara melalui Kota Bukittinggi, Padangpanjang, dan Solok. ''Sesar Semangko atau sesar Sumatra ini merupakan salah satu sesar paling aktif,'' kata Surono di Bandung. Daerah sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh endapan kuarter berupa aluvial sungai, endapan aluvial, pantai endapan rombakan gunung api, serta endapan batu gamping tersier. ''Sehingga amat rentan terjadi gempa bumi,'' jelas Surono.ant/tar/osa/ria. Kami berharap pembaca sekalian dapat membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa di Sumatra Barat dengan mengirimkan bantuan ke rekening : - Bank Syariah Mandiri Warung Buncit No. Rek. 003-006-7066 - Bank Mandiri Kuningan No. Rek. 124-000-1079-798 - Bank BCA Arteri Pondok Indah No. Rek. 291-300-5244 Semua atas nama: Yayasan Portal Infaq Bantuan mendesak saat ini adalah makanan, pakaian dan obat-obatan. Sumber foto dan berita : Republika www.portalinfaq.org www.portalinfaq.org.uk  
Tuhan, Pemimpin kami memang hebat bahkan kala kami penuhi panggilanMU di pintu ka'bah
mereka suruh kami merasakan lapar yang sebenar-benarnya sebagaimana nasib saudara-saudara kami yang tak mampu lagi membeli nasi di negri yang katanya jamrud khatulistiwa
Tuhan, aku kagum sekali pada para penguasa ini
karena merekalah kami bisa sungguh-sungguh merasakan bagaimana rasanya, berebut sepotong roti dan nikmatnya nasi bungkus disantap berjamaah
Tuhan, sampaikan kagum kami pada mereka ya hingga berkabut air mata istri kami, paman, dan orang tua kami menapaki arafahmu
Epri Tsaqib, 2007
  percuma kau cengar-cengir sok manis berlagak pahlawan jual janji
kalau sampai di kursi cuma merengek tunjangan komunikasi
ciiihh!
wajahmu bagai najis di pinggiran beras operasi pasar yang tak lagi mampu kami beli
Epri Tsaqib, Jakarta 2007
  dalam letih terduduk aku melukis di atas pasir pantai sepenggalan jalan pulang
tempat di mana galau dan lolong parau bersimbah derai tetes selalu diterima tanpa berjuta tanya
jauh sekali tatihku terseok
:tunjuki aku
Epri Tsaqib 1999  
\1\
Gerbong membelah mimpi pepohon menyirat kilas bayangMU menelusup pelan-pelan sejelas permadani hijau padi sejuk menyesap dalam menghampar
\2\
Basah, basahilah bibir yang kerdil merindu lamat-lamat desahMU
setunduk wirid air sungai membelah petak-petak undakan meluncur mengikuti kelok jejak nafas-nafas
\3\
BayangMU terus menari mengibas perjalanan
teruslah di sini wahai Maha Indah halau setiap percik hijab yang menggantung di akar hatiku
Epri Tsaqib, 8 Februari 2006 Dari jendela kereta -- Jkt - Jogja
  “Pondok Karya 3 meter lebih pak … Segera kirim bantuan kesana ya pak!” Salah seorang relawan Portalinfaq memberi kabar terbaru ke kantor kami. Bismillah…segera kami bergegas mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk segera ke ATM di bilangan Mayestik untuk mengambil uang bekal belanja bantuan. Sebelum ke lokasi, kami belanja dulu di pasar Santa Jakarta Selatan yang ternyata sedang direnovasi. Ibu Haji yang berjualan juga bercerita kepada kami bahwa barang-barangnya tidak bisa terbawa di gudang di sebelah rumahnya karena terhalang banjir. Stok barang yang ada ini juga yang terakhir katanya. Alhamdulillah karena untuk korban banjir beliau memberikan seluruh stok mie instannya untuk dijual. Dengan harga diskon pula. Lalu kami pun bergegas ke Kelurahan Petogogan RT 13 dan 14 yang selain dalam airnya ( 2 meter atau setinggi loteng rumah ) juga arusnya sangat deras. Para kaum bapak yang sedang berjaga menunggu perahu evakuasi tim SAR pun harus ikat dengan tali tambang ukuran besar agar tak terbawa air yang kencang itu, padahal ini masih di’pinggir’. Kami belum lagi masuk sampai ke dalam. Segera dus-dus mie instant diturunkan ke Posko Warga RT 13 dan 14 yang tak jauh lokasinya dari SMU Tarakanita atau disingkat Tarki ini. Walaupun sudah diberikan ke posko, ibu-ibu yang mengungsi di ruang kantor kosong di dekat kami ini, menitipkan pesannya, “Pak kalau ada lagi bawa ke sini ya, kami lapar nih, mana ada anak-anak kecil lagi”. Lantas kamipun menunjukinya posko di mana kami memberi bantuan tadi. Saat kami akan kembali perahu tim SAR datang membawa warga yang terjebak air di rumah mereka yang terendam. Mereka kelihatannya letih karena sejak semalam bergantian mengevakuasi warga yang terjebak banjir. Dalam keadaan begini ketenangan emosi seorang relawan memang sangat diuji. Bila tak siap, permintaan sederhana dari seorang kakek yang ingin melihat keluarganyapun bisa ditanggapi nada tinggi. Tetapi untunglah warga yang lain ikut meyakinkan bahwa beliau ini benar warga setempat sehingga kakek inipun diperkenankan ikut ke perahu. Di sudut lain tak jauh dari kami, seorang ibu tertunduk lesu diatas sofanya yang basah, mungkin dia suntuk terlalu lama menjaga barang-barangnya sementara keluarganya yang lain belum juga kembali. Selain pengungsi manusia yang membawa barang-barang berharga, di lokasi ini terlihat juga beberapa ekor sapi yang berhasil dievakuasi pemiliknya. Bagi anda yang ingin membantu silahkan kirimkan bantuan melalui rekening kami di : - Bank Syariah Mandiri Cab. Warung Buncit No.Rek.0030035790 - Bank Mandiri Cab. Kuningan No.Rek.124-0001079798 - BCA Cab. Arteri Pondok Indah No.Rek.291-300-5244 Semua atas nama Yayasan Portalinfaq Semoga kepedulian kita bisa meringankan beban saudara-saudara kita yang saat ini terkena banjir. www.portalinfaq.org www.portalinfaq.org.uk http://pondokyatim.multiply.com  : Remy Soetansyah
senja bergayut manja menyisir bilah mata menyusup merembesi dada gelisah
memapahnya menderai jejakjejak luka
biarlah ombak memecahnya menjadi buih
seperti gelepar rinduku yang mengelupas di ronaMU
Epri Tsaqib, 29/01/2007   by : Setia Kata -- Setiyo Bardono
Mengering Basah
Keringat basah Telah mengering Belum terbayar
Karcis mengering Telah basah Terus dijual
Kugenggam duka menyusuri sisi gelap Kurobek dusta menyesaki gerbong pengap
Cawang - Depok, 8 Januari 2006
----------------------------------------------
by : Adi Toha
keringatmu basah jalanmu menempa lelah masih belum juga usai gelisah
tubuhmu yang ringkih langkahmu tertatih menahan letih masih belum juga usai perih
untuk siapa kau redam luka untuk siapa kau balut duka
waktumu takkan pernah bisa terbayar olehku anakmu Pak..
jtngr, 190106
----------------------------------------------
by : Epri Tsaqib
karcis berdarah menguras keringat lelaki kalah terdepak debu resah
gerbong mendengus pengap galau bergoyang menapaki hari yang makin payah
Selatan Jakarta, 2007 
| |