Kemarin sore-sore saya tidak sengaja ketemu tukang jamu di jalan. Karena sudah lama tidak minum jamu saya berhenti sebentar beli jamu pahit biar badan seger. Mbak jamu yang ini saya lihat agak unik, lain dari yang biasanya, karena kalau biasanya di gendong, kali ini si mbak ini bawa sepeda.
Iseng-iseng saya ajak ngobrol aja sebentar sambil nunggu jamu pahitnya. Ternyata dia jualan 2X sehari pagi dan sore, mbak ini yang sudah punya anak 1 orang ini ternyata merantau ke jakarta dan terpaksa mencari nafkah untuk membantu menopang kehidupan keluarganya di kampung ( di Jawa Tengah ) karena suaminya penghasilannya juga pas-pasan. Nah anak dan suaminya ada di kampung, sementara di jakarta ini dia tinggal sama saudaranya.
Yang saya salut mbak ini pakai jilbab meskipun pekerjaannya menggeos sepeda kemana-mana. Untuk meredam panas dia pakai topi caping ala pak tani. Ketika saya tanya kira-kira berapa untungnya jualan jamu seperti ini, dia bilang lumayan juga mas, katanya bisa 25 ribu sampai 40 ribu sehari.
Ketika saya ambil fotonya, dia balik bertanya,"Mas ini wartawan ya? kok tanya-tanya sama moto2?" Saya senyum-senyum saja, saya bilang bukan mbak, saya seneng moto aja, apa aja saya foto, kata saya mencari alasan. Dan mbak itu segera pamit mau cari pembeli lagi, padahal saya masih mau tanya- tanya lagi. Saya penasaran sebenarnya kok bukan suaminya aja yang merantau kenapa malah istrinya? Padahal kan beliau juga masih punya anak kecil ya gak? Tapi ah sudahlah, mungkin keluarga mbak ini punya alasannya sendiri. Biarlah rasa penasaran saya tenggelam di langkah-langkahnya yang berat mendorong sepeda setiap hari, dihantam debu-debu jalanan ibukota, saya cuma bisa berdoa dalam hati semoga mbak kita ini jamunya laris manis. Supaya bisa sering bertemu buah hatinya, karena saya aja yang laki-laki gak tahan kalau jauh-jauh dari keluarga dalam waktu lama. Bawaannya kangen terus.
Mudah-mudahan aja hasil dagangannya cukup untuk menyekolahkan anaknya itu, karena zaman sekarang biaya sekolah juga melangit. Senja terus bergerak, mbak jamu pamit mendorong sepedanya, menawarkan jamunya, "Jamu...jamuuuu, jamunya pak?" Hidup memang rahasia Alloh, kita cuma di minta terus berusaha dan berdoa. Bersyukur atas segala nikmatNYA, saya yakin kepada Alloh boleh jadi sesungguhnya mbak jamu itu lebih pandai bersyukur daripada saya, lebih deras doa-doanya, lebih mustajab malah, karena dia berjuang lebih berat daripada saya yang meskipun lelaki tapi tidak perlu mengayuh sepeda dan berteriak-teriak di jalan serta jauh dari anak-anak karenanya. Ah saya yakin Alloh memiliki banyak hikmah dan rahasia kebaikan bagi setiap hamba-hambaNYA yang berjuang.
Wallohu 'alam bissawab
Epri Tsaqib, Jakarta Selatan 7 Desember 2006
|
 | Kadang yang jadi penyesalan, IsTRI dah payah cari nafkah malah suami bertingkah,istri peras keringat,lidahnya suami malah bersilat...aneh..aneh dunia memang aneh. Apalagi yang nangkring di Hongkong, suaminya banyak yang pada serong,istri pulang akhirnya bengong,karena duit habis buat nyelonong...kasian dech istri. tapi untung saya belum bersuami, dan moga-moga suami gak pada jadi penganut "POLIGAMI" dan sadar istrinya juga punya hati, perih bila disakiti..iii..iii..iii |
 | hmm.. mungkin saja sang suami menggarap sawahnya dikampung pak Pri,.. jadi ya si embak yang harus merantau ke jakarta. moga Allah melimpahkan rizki padanya lewat jamu2nya amin. |
 | Waw....Hebat.....Kubaca Berita Foto ini, aku teringkat Bunda yang ada diJakarta, dan ku ingat betul ketika beliau banting-tulang untuk mencari tambahan biaya hidup dari ayah. Usaha beliau sangat keras, bahkan sanggup menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Bunda,....terima kasih atas semua perjuanganmu, kini sudah sepantasnya lah aku membahagiakanmu. Kini, setelah berpuluh tahun kau lakukan semua itu, setelah jutaan mil jalan yang ia susuri, bertampuk-tampuk doa dan selaut tangisnya di hadapan Allah, saya tak pernah, dan takkan pernah bertanya apakah ia begitu lelah. Karena saya teramat tahu, Ibuku tangguh. |
 | senyumnya penuh arti, terimakasih ya sudah mampir |
 | brecs wrote on Dec 8, '06 Women are thougher than men, actually |
 | lebih kuat menahan derita ya? walah... |
 | Kadang2 wanita itu lebih kuat dalam hampir segala hal...bayangin aja 9 bulan dan 10 hari mengandung , setelah itu mengurus si anak sampai bisa mandiri , mengurus suami , mengurus rumah tangga, dan juga membantu agar keluarga tetap "kuat" didalam kehidupan yang semakin hari semakin keras. Salut buat si penjual jamu!!! Punya tekad dan kemauan yg besar utk menghidupi keluarga...!!! |
 | apa jadinya pria tanpa wanita....garing banget, demikian sebaliknya :) |
 | Hebat mbak Jamu ini perjuangannya. Tetap pake jilbab lagi! Masya Allah. Semoga rejekinya berkah, amin. |
Comment deleted at the request of the author.
 | nice series, cuman kurang diexplore ajah. misalnya dikasih 1-2 contoh si mbak yang sedang berinteraksi dengan pelanggan, close up botol2 jamunya, dsb .... |
 | terimakasih masukannya :)
blh belajar moto sama sampeyan gak ya? :) |
 | hehehe...jadi barteran ini ya :D |
| |