Saya belum pernah membaca buku ‘Pelatihan Sholat Khusyu’ nya Abu Sangkan, tapi saya pernah diberitahu seorang ustadz bahwa sholat yang khusyu itu tak mudah. Sulit bagi kita untuk bisa benar-benar khusyu dari awal sampai akhir sholat kita. Tapi beliau bilang, setidaknya kita harus mengupayakan mempertahankan saat di mana kita merasakan konsentrasi tertuju kepada Alloh , Sang Khalik yang menjadi tujuan kita menghadap saat kita melaksanakan sholat. Jangan sampai ‘lost’ sama sekali. Kalau ini sampai terjadi, wah benar-benar merugilah kita. Kenapa begitu merugi?? Yah karena dengan begitu sebenarnya kita sedang kehilangan momen berharga kita bersama Pemilik Seluruh Alam Raya ini. Dzat tempat seluruh tumpuan dan harapan kita dilabuhkan. Dzat yang menentukan bahagia dan tidaknya hidup kita, saat ini atau nanti.
Pernah satu saat saya merasa mata saya hangat sekali ketika sholat, memang saya tidak sampai menangis, karena saya sedang sholat di masjid dan ada begitu banyak orang. Tapi saya alirkan mata saya yang mulai basah dan berkaca-kaca itu ke hati saya. Ahh…hangat sekali rasanya ( padahal mestinya kan dingin ya…kan kena cairan J ). Saat itu saya merasa setiap lafadz yang terucap dari bacaan sholat saya menjadi begitu berarti buat saya. Kalau saya sedang sujud maka saya gunakan sebaik-baiknya menitipkan juga sebaris do’a yang begitu ingin dikabulkan olehNYA. Ketika saya sedang memujiNYA saat rukuk maka saya lantunkan tasbih padaNya begitu dalam sehingga makin terasa damai seluruh sendi tubuh saya. Hampir-hampir saya sungguh-sungguh ingin menumpahkan tangis bahagia saya ketika merasakan sholat senikmat itu. Tapi saya masih bisa menahan tumpahan airmata saya, hingga akhirnya kalimat salam terucap ke sisi kanan dan sisi kiri saya. Barulah kemudian saya tutup wajah saya dengan kedua telapak tangan saya. Dan mengalirlah seluruh kebahagiaan saya saat melewati waktu istimewa tadi.
Begitulah ...bahkan sampai saat ini, kalau saya mengingat sholat saya ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Pernah juga saya melihat sebuah perbincangan di televisi waktu bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, di situ ada seseorang yang bilang, ”Saya pernah sekali merasakan sholat cuma 2 rakaat, tapi saya merasa sangat khusyu dan tahukah anda rasanya nikmaaat sekali.” lalu orang itu melanjutkan,”Andai ya..setiap sholat kita bisa seperti itu”. Subhanalloh bagaimana kalau orang itu bisa rutin menangis di sepertiga malam terakhir secara rutin sebagaimana Rasulullah dan para sahabat terbiasa melakukannya? Bisa kita bayangkan bagaimana stabilnya jiwa seseorang yang bisa merasakan sholat yang khusyu.
Imam Syafi’i pernah memberi tips pada kita, ”Bila kamu sholat maka bayangkanlah bahwa sholat kamu itu seperti sholat yang terakhir” sebuah nasihat yang tepat sekali andai kita bisa mengkondisikan hati kita seperti itu sebelum memulai takbiratul ihram atau bahkan sebelum mengucapkan niat ketika hendak sholat.
Sesungguhnya sholat yang khusyu dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana firman Alloh di dalam Al Qur’an Surat Al-ankabut : 45. Lalu Alloh juga menegaskan di ayat yang sama,”Sesungguhnya mengingat Alloh ( sholat ) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain dan Alloh mengetahui apa saja yang kamu kerjakan”
”Sesungguhnya sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikannya maka ia menegakkan agama, siapa yang melalaikannya maka ia sedang meruntuhkan agama” ( Hadits Riwayat Baihaqqi )
Ahh.. saya cuma mau sekedar sharing saja, sama sekali tak bermaksud menggurui, agar saya juga selalu berusaha menjadikan sholat saya sendiri menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu, baik dalam hal ketepatan waktunya juga kualitas maknawinya. Amiin. Semoga bermanfaat ya.
Wallohu ’alam bissawab
Epri Tsaqib
http://epriabdurrahman.multiply.com