 Hampir setiap orang yang berkendara di jalan di raya apalagi yang berada di kota besar macam Jakarta pasti pernah mengalami ditilang pak Polisi. Saya ingin tahu pengalaman-pengalaman anda waktu ditilang polisi, karena sebab apa dan bagaimana anda menyikapinya? Kalau anda tipikal yang cukup berani meladeni tantangan polisi dengan tidak mau 'berdamai' di tempat alias kasih uang kepada mereka, berapa lama anda mengurus di pengadilan untuk ambil SIM anda misalnya dan berapa biaya dendanya? Setujukah anda dengan tulisan pada gambar di samping tulisan ini? Bahwa memberi uang kepada mereka adalah juga = pembudayaan korupsi? meski kecil-kecilan? Terimakasih untuk sharingnya yah. Salam Epri Tsaqib
 | duh, nyebelin banget pas kena tilang di dekat Monas! Padahal gak melanggar marka jalan atau apapun, tapi emang yg salah di mobilnya, plat mobil mati dan gak ada STNK, yang tapi bukan urusanku, karena ada surat izin dari Mabes Polri sendiri ... tapi ... ujung2nya minta duit!! ternyata moral bangsa ini harus diukur dengan uang, ya? ........... *sigh*........
solusi = menjadi benar dan tegas, maksud saya, lebih baik berurusan dengan pengadilan daripada dengan orang2 seperti yang minta disuap itu :) |
 | Pernah.... Waktu itu ga pake helem trus ga bawa sim
karena buru2 urusan kantor ketimbang lama2 ngobrol ama tuh polisi ya udah
DC: "tolong pak, gimana baiknya, saya sedang ada urusan penting dikantor"
Polisi: "gini aja, kita selesaikan disini atau diknator? (pos polisi,red)"
DC: "Disini aja pak" Polisi: "Untuk kesalahan tak memakai helem Rp,20 Ribu, tak membawa SIM Rp. 20. ribu". Sambil isep rokok
DC: "Baiklah Pak, ini (nyodorin 50 Ribu)." nunggu kembalian Polisi: "Ya udah, silahkan jalan", lupa ngembaliin 10 ribu DC: " Pak, kembaliannya", dalam hati berucap, cari masalah nih monyed.
Polisi: "Adik kerja dikantor apa?" DC: "xxxxxxxx Pak" Polisi: "Hah....? Koran yg di Jalan xxxxxx itu>? DC: " Iya pak" Polisi: "kenapa tidak bilang dari tadi?", dengan wajah manis DC: "nnnnggg, Maksud bapak? Polis: " Ah,,sudahlah, nih ambi lagi uangnya, silahkan terus jalan" DC: "Iya pak. Terima kasih" Polisi: "Mariiiiii"
BERES DC |
 | ada tuh media dengan polisi kan mitra biasanya urusan bisa jadi gampang :)
beruntunglah yg punya kartu pers hiihhihi
|
 | prinsip saya semua adalah kawan, jadi kl saya berjabat tangan dengan polisi, apa ada yang salah? 'bukankah polisi sahabat anda?' (*kadang2 paZ jabat tangan, ada uang yang tak sengaja lengket di tangan, jadi dengan sukarela mereka membantu saya melepaskannya...*) |
 | pokoknya, kalau di jalan liat polisi lagi razia atau sekedar berdiri di pinggir jalan, rasanya udah stress banget en trauma. bukan apa-apa, udah apriori duluan soalnya mas ! hehehehe...pernah 2 kali di tilang polisi waktu dibonceng naik motor. pertama, ditilang karena motor masuk ke jalur cepat, padahal emang kita mau putar balik. eh..begitu lagi ditilang, polisi malah nyuruh motor kita dibawa naik lewatin pembatas jalan yang gede buat nyebrang ke tempat dia parkir motornya..whualaaaah..bukannya itu juga sama aja ngelanggar ya? puciiing.. |
 | assalamu alaikum, Pak Epri..pakabar nih? Dulu ketika jamannya kampanye presidensial saya pernah kena semprit di Lampu merah Tomang, jakBar karena teman yg saya bonceng tidak pakai helm dan saya membiarkan mereka untuk menilang saya, menyita SIM saya dan saya harus ikut sidang di Pengadilan JakBar, Jl. S. Parman, Slipi. Namun ketika hari tgl sidangnya tiba, di depan pintu pengadilan pun saya ditanya oleh seorang petugas yg tidak jelas pakai seragam apa dan apa kerjaannya disitu, saya ditanya hendak kemana dan mau apa? setelah saya jelaskan mereka menawarkan jasa utk tidak usah ikut sidang karena hakimnya tidak ada. Dasar saya juga masih gak tau apa-apa akhirnya saya serahkan kepada org itu Rp.60 ribu yg kalau ikut sidang juga gak jauh dari itu sekitar Rp.50 ribu tapi harus menunggu sampai sore (ketika itu sy dtg jam 9 pg). Selang tidak lebih 5 menit dia kembali dan membawa SIM saya setelah saya tunjukkan KTP dan STNK saya. Gimana tuh kalau gini...kayaknya sangat susah budayanya.. karena menurut saya jika ikut sidang pun saya ga tau tuh bener ga lama atau juga "UUD"... :) |
 | kalo ngliat razia di jalan...??? wah wah... trauma n strezz yg mendalam.. wlapun smua surat2 lengkap juga kaga ngaruh.. -- coz critaNy, wktu 1thnAn yg lalu,, pernah di Stop n Di tilang 4x dalam 1 minggu lohh.. -- trz saking strezNy pernah juga nerobos barikade polisi, hehehehe.. n dapet oleh2 bogem mentah (ehmm, untungNy yg kena tangan pacar bhell, xixixixixixi) ampe biru bin ungu.. -- hah... kalo dulu motorNy ad Rudal, dah di Bom duluan x tuh.. bodo deh kena DPO juga. -- skarang sih udah jadi orang baik2,, :D |
 | jangan mau damai di tempat, biar aja kena tilang dan ikut sidang. keenakan polisinya klo kita damai di tempat .... ah polisi gak ada harganya. hehhehe |
 | 3 kali kena tilang # melanggar marka jalan *nggak liat lho kalu ada tanda larangan untuk berbelok di situ, biasanya nggak ada* -- sidang. 10 hari setelah saat di tilang. bayar denda dan sidangnya 20 rb
# tidak bawa sim *sidang ditempat* --> *lucunya ini kejadiannya pas saya mau wawancara pihak kepolisian untuk skripsi *sidang di tempat, nggak taunya yang bawa motornya malah lupa bawa sim :)) *sidang ditempat ini, kita membayar denda pada pihak bank*
# tidak bawa sim-stnk dan yang bonceng tidak pake helm--> bayar denda sesuai keputusan pemda setempat *kab Malang* stnk 40, sim 35, tidak pake helm 25 ---> tapi tetep aja bingunng, bagaimana caranya pihak kepolisian bisa mengaudit pembayaran denda yang seperti ini? *temen yang mbonceng maksa bayar ditempat kerna mengejar jadwal yudisium-motornya punya dia :D* --------------------------------------- sampai saat ini masih bingung bagaimana pertanggungjawaban keuangan yang diperoleh dari denda oleh pihak kepolisian. kalau bayar ditempat sesuai peraturan, pihak kepolisian emang menuliskan dilembar denda, tapi kitakan tidak diberikan tanda terima telah membayar denda. hum!
|
 | Mungkin pengalaman saya ini bisa diambil contoh untuk para polisi Indonesia. Ketika saya tersesat di Tokyo, tepatnya di wilayah Akihabara (tempat jualan elektronik murah2 boooo), dan bingung mau kembali ke Yokohama... gak tau stasiun kereta apinya kok hilang... alias saya lupa jalannya. Karena bingung, saya beranikan diri tanya ke polisi muda yg sedang berada di atas sepeda di pinggir jalan. Saya tanya di mana stasiun kereta api yg ada jurusan ke Yokohama?
Polisi muda itu balik tanya, "OK, mau saya jelasin pake bhs Jepang atau Inggris?" "Ah, inggris aja deh!" kata saya. Polisi itu menjelaskan pake bhs Inggris... duh Gusti... saya tetep gak mudeng!
Ngeliat saya gak ngerti2 juga, sang polisi muda itu lalu panggil temannya via HT. Gak lama dateng polisi lain pake mobil patroli. Setelah berbincang sejenak akhirnya saya dianterkan dng mobil polisi ke stasiun kereta api. Dan bukan itu saja.... sesampainya di stasiun saya dianter sampe ke loket penjualan karcis mesin dan dikasih tau cara penggunaannya (training singkat neh!).
Akhirnya saya sampai di Yokohama dengan selamat dan bisa tidur nyenyak di asrama. Duh Gusti.... alangkah nyaman dan amannya negriku jika polisinya seperti di Tokyo! Ah, dasar mimpi.... kita kan emang hidup di Republik Mimpi.
Salam Bekti Hermawan |
 | Di ujung jalan Rasuna Said dekat hotel Gran Melia ada jalan terbuka untuk masuk dari jalur lambat ke jalur cepat, namun kalau tidak tahu, dikira jalan untuk masuk ke jalur lambat, dan akupun pernah melakukannya, akupun masuk dari jalur cepat ke jalur lambat, beberapa meter, priiiiit lah berbunyi, saat itu sudah jam 19.30 - 20.00, aku tidak mau turun, aku berikan SIM ku kepada pak pol, nggak berapa lama dibalikin lagi dan disuruh jalan, looooh, kenapa ya, ooooo, aku mencoba jawab sendiri, waah pak pol males berurusan dengan ibuk-ibuk hampir 50 tahun, Alhamdulillah, akhirnya aku tidak jadi ditilang. |
 | Alhamdulillah...mungkin satu saat kalo disemprit pak pol aku pake konde aja kali ya biar gak ditilang hehehe ...tks for sharing :) |
 | waaah bukan konde masalahnya, tapi pak pol lihat data yang tertera di SIM, wah kelahiran hampir 50 tahun yang lalu, males juga urusannya, hik hik hik |
 | hihihi...mgkn aku perlu operasi plastik dulu kali ya biar pak polnya kasian sama saya :D |
 | jujur...tobat ana di pimpong selama sepekan hanya untuk ngurus surat2....jd sekarang mah bayar dijalan aja, coz dosanya mereka yg tanggung kalo korupsi..baiknya dlm lembaran uang kertas ditulis "Korupsi...Tuhan tahu!!!" |
| |