Saya mendengar ada sebuah buku yang membahas perilaku orang Indonesia terbit di Jepang dan ditulis oleh orang Jepang yang pernah tinggal lama di Indonesia. Judul asli bukunya adalah Fuhai to Kanyo Indonesia Bisunese [Korupsi dan Toleransi dalam Bisnis Indonesia].

Buku ini menggambarkan sifat orang Indonesia yang RAMAH dan TINGGI sifat TOLERANNYA. Sayangnya dikotori korupsi yang telah merajalela. Sikap toleransi terlalu berlebihan sehingga malah memperkuat terjadinya korupsi dan mengganggu kelancaran bisnis profesional. Memang dalam pergaulan sesama manusia, sifat toleransi ini adalah sifat yang bagus, tapi hal ini tidak berlaku kalau muncul di dalam dunia bisnis.

'Budaya' jam karet adalah salah satu contoh sifat toleransi yang tidak bisa diterapkan pada masalah bisnis. Sebab mengapa hukuman terhadap orang yang melakukan korupsi masih saja ragu-ragu untuk diberikan, mungkin karena sifat orang kita yang terlalu baik hati dan bertoleransi. [dikutip dari tulisan Bapak Purwadi Raharjo].

Pasti bukan cuma saya yang merasa miris dengan budaya jam karet yang sudah bagai Gurita Raksasa di negri ini. Di kantor-kantor [Negri maupun swasta], di tempat-tempat acara formal [apalagi informal] sudah menjadi rahasia umum kalau panitia membuat jadwal lebih dimajukan daripada waktu mulai acara yang sebenarnya untuk mengantisipasi hadirin yang biasanya lebih banyak terlambat daripada yang on-time.

Artinya seringkali panitia pelaksana suatu acara juga bersikap TIDAK ADIL dengan orang-orang yang datang duluan alias on-time schedule dan lebih suka memundurkan acara dalam rangka menunggu orang-orang yang datangnya terlambat. Dengan kata lain dalam kasus ini yang datang on-time malah DIHUKUM untuk menunggu orang-orang yang terlambat. Luar biasa bukan?

Kelihatannya sepele tapi inilah yang sering terjadi, termasuk bila kita membuat janji dengan orang lain kemudian kita terlambat dan membuat rekan kita itu menunggu begitu lama dan ketika datang tak ada permintaan maaf sama sekali atau upaya menjelaskan keterlambatan dengan memberi kabar sebelumnya. Wah...saya yakin anda semua pernah mengalaminya bukan berhadapan dengan orang semacam ini? Bagaimana perasaan anda saat menunggu si tukang telat ini?

Atau pernahkah anda merasakan membuat janji dengan seseorang dan orang itu membatalkannya begitu saja ketika anda sudah sampai di tempat anda membuat janji dengan orang itu? Atau anda pernah menjadi orang yang membuat janji itu lalu membatalkannya seketika? Putarlah lagi waktu anda untuk mengingatnya! Kalau sudah, ingatlah rekan anda yang anda Zalimi itu berjanjilah dalam hati untuk menjadikan hal ini sebagai yang terakhir kalinya.  </p>

Toleransi terhadap 'koruptor' yang dilakukan pihak peradilan dan petinggi di negri ini sebagaimana ditulis di buku itu, boleh jadi bermula dari rasa toleransi kita yang begitu tinggi kepada si tukang telat dan kita lakukan setiap hari sehingga wajar saja, untuk hal sebesar itu kita juga terbiasa bersikap toleran. [habis sudah biasa RAMAH sih..Hiks...]

Kita semua sepakat, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Saya percaya banyak kisah keberhasilan dan sukses orang-orang besar dalam karir dan perjalanan hidupnya karena melakukan kebaikan-kebaiakan kecil dan terus menerus memepertajamnya. Kalau anda tak mau menjadi bagian yang ditulis oleh orang Jepang di dalam bukunya itu, mulai kini janganlah lagi bertoleransi dengan budaya jam karet!.

Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Wallohu ’alam bissawab

Epri Abdurrahman Rafi'


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ladyzie wrote on Feb 25
gw suka banget judul dan isi postingan ini :)
epriabdurrahman wrote on Feb 26
Thanks Ladyzie :)
iwananashaya wrote on Feb 26
syukrön katsir, Bang. :)
epriabdurrahman wrote on Feb 26
waiyyaki sama-sama :)
catatankecil wrote on Feb 26
Bukan jam karet pak,tapi fleksible :-j
epriabdurrahman wrote on Feb 26
Halah....namanya juga karet ya...lentur :D

Yang begini nih yang bikin golok gak perlu diasah udah tajem sendiri hahaha :D
clearerthandaylight wrote on Feb 26
being on-time is a marked for others for being no-time
srisariningdiyah wrote on Feb 26
KRL juga suka ngaret terhadap pelanggan nya tuh... ;))
tapi menuntut pelanggan berlebihan dengan ngecat pelanggar ketentuan... harusnya disiplinkan diri sendiri dulu donk baru deh pelanggan di-cat... ;))
epriabdurrahman wrote on Feb 26
@ clearethandaylight : o ya? :)

@ Ari : setujuh....emang pelanggarnya dikasih hukuman apa mbak ari?

cakdebono wrote on Feb 26
ah jam karet mana ada bro? lagian jam dibagi dua belas dengan 60 menit dan 60 detik itu dominasi barat bro! bukannya org Islam punya jam dan skala waktu dan ketepatanya sendiri?
epriabdurrahman wrote on Feb 26
iya ya sekarang kebanyakan jam dari besi ...ahh ngaco nih cak Bon-bon :D ...soal ontime mah gak peduli Islam gak Islam, kalau dah molor semua jg sakit Ati Cak Bon-Bon :D

muuacch :)
jagorawi wrote on Feb 26
Aku punya teman dari Oz dan dia janjian sama temannya dari Jepang dan dia tidak ingin terlambat sampai diapartemet si Jepang, tapi bukannya terlambat tapi kecepatan sampai lokasi. Dia bukannya langsung menemui si Jepang tapi malahan dia menunggu sampai jam yang sudah disepakati.
Soal jam karet tidak ada hubungan dengan agama cakdebn
cakdebono wrote on Feb 26
Ok gak ada hubungannya sama agama. tapi jam itu hegemonik dan dominasi barat lho, saya kira diluar budaya barat jugak gak gitu2 amat, kita kenal istilah bakda ato coba deh penaggalan diluar masehi dikronfrontir sama kalender hijriyah mana ada bulan yg tepat waktu kalok gak pake rukyat dulu. Intinya, ketepatan waktu itu bukan kepada detiknya tetapi niatnya, saya kira hehehe...coba fikirin kemungkinan bahwa fleksibel bukan berarti ngaret bro
epriabdurrahman wrote on Feb 26
hehehe cak bon-bon istilah bakda itu ya memang untuk setelahnya...bukan pada saatnya.

Trs kenapa dikonfrontir antara hijriah sama masehi, konteksnya kan soal janji dan dimanapun, kapanpun orang gak suka lah disuruh nungguin si Pembuat Karet eh salah tukang ngaret...emang eike cowok apaan BO...hahaha karet emang fleksibel cak alias gampang melar sana-sini...Yukkk Mariiiii :D
srisariningdiyah wrote on Feb 26
emang pelanggarnya dikasih hukuman apa mbak ari?
di cat tuh... memalukan memang...
tapi aku rasa PT. KAI harusnya ngasih bukti janjinya dulu yang nggak ngaret jadwal, baru deh bisa ngasih hukuman seberat itu... lha kalo ada yang kececer walau udah beli karcis? gimana..
paling engga sistem di segala bidang di PT KAI dulu deh benahin.. yang korupsi diberantas... jam datang pergi kereta ditepati... kelayakan sarana buat pelanggan disanggupi... kebersihan sarana yang notabene biayanya udah dibayar pelanggan, dilaksanakan...

hahhhh ga habis ngomongin itu hahahahhaa
epriabdurrahman wrote on Feb 27
di cat tuh maksudnya di kasih cat ? belom.nyambung.com :D
akunovi wrote on Feb 27
udah kayak tradisi ya di indo... jam karet :(, tfs, mas epri
lukmanhakimch wrote on Mar 3
biasanya begini ;
+"duh maaf nih saya terlambat."
-"ga papa pak, biasa aja kok"
...wak wak wak...
nafiyya wrote on Mar 3
memangnya ada disini yg ontime?
paling cuma waktu buka puasa aja
epriabdurrahman wrote on Mar 4
ada kok nafiyya...itu lho Orang2 yang Ontime untuk tetap Tdk ontime....jadi konsisten gitu :D hehehe
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.